Hadapi Ancaman El Nino Godzilla, Petani Rembang Tak Ciut Berkat Bantuan Alsintan

  • 21 Mei 2026 20:58 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino Godzilla tak membuat petani di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, ciut menghadapi musim tanam. Berbekal bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta dukungan irigasi, mereka justru optimistis tetap bisa menanam padi hingga tiga kali setahun.

Pemandangan itu terlihat di areal persawahan Mojorembun, saat petani tetap sibuk bekerja di bawah terik matahari. Sebagian memanen padi menggunakan combine harvester, sementara petani lain mulai mengolah lahan dan menanam benih dengan bantuan transplanter.

Anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono mengatakan kondisi pertanian di wilayahnya kini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya sawah hanya mampu ditanami padi sekali setahun, kini petani mulai menikmati panen hingga tiga kali berkat dukungan irigasi perpompaan.

“Mampu dua kali tanam saja dulu kalau curah hujan tinggi. Alhamdulillah, sejak mendapat bantuan irpom dari pemerintah pusat, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” ujarnya, Kamis, 21 Mei 2026.

Kelompok tani yang beranggotakan 80 petani itu mengelola sekitar 35 hektare lahan dengan produktivitas mencapai 7–7,5 ton per hektare. Selain bantuan irigasi perpompaan, petani juga mendapat dukungan combine harvester dari Kementerian Pertanian, transplanter dari Pemkab Rembang, hingga bed dryer atau pengering gabah dari Pemprov Jawa Tengah.

Menurut Karyono, pasokan air untuk sawah saat ini juga terbantu dari Bendung Randugunting. Bahkan, pemerintah tengah menyiapkan sistem perpipaan agar distribusi air bisa menjangkau lahan pertanian yang berada jauh dari aliran sungai.

Meski prediksi El Nino panjang mulai ramai dibicarakan, petani di Mojorembun Rujito mengaku belum terlalu terdampak. Curah hujan yang masih turun dalam beberapa pekan terakhir membuat mereka percaya diri memulai musim tanam ketiga.

“Kita tahunya akan ada kemarau panjang dari televisi, tapi cuaca sampai sekarang masih memungkinkan. Jadi, kami memberanikan diri memulai musim tanam ketiga,” kata petani Mojorembun, Rujito.

Meski demikian, petani masih menghadapi tantangan lain berupa ancaman intrusi air laut yang berpotensi mengganggu kualitas air baku pertanian. Selama ini ,mereka berupaya membuat tanggul sederhana, tetapi belum mampu bertahan karena mudah ambrol.

Ditemui terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan(Distannak) Jawa Tengah, De Fransisco Dasilva Tavares mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi menghadapi cuaca kering. Langkah itu dilakukan untuk menjaga target produksi padi Jawa Tengah tetap mencapai 10,5 juta ton pada akhir 2026.

Salah satu strategi yang diterapkan adalah percepatan masa tanam melalui sistem “sepur”, yakni setelah panen langsung disusul penanaman baru. Pemerintah juga memperkuat bantuan jaringan irigasi, pompanisasi, varietas tahan cuaca kering, hingga pengawasan terhadap hama dan perubahan iklim.

Menurutnya, bantuan dari pemerintah pusat dan daerah terus diperluas untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau. "Jadi bantuan dari APBN dan APBD ini, untuk mendukung kesiapan aliran air memasuki musim tanam,” ujar Frans, sapaannya.

Ia menjelaskan, bantuan yang diberikan meliputi rehabilitasi jaringan irigasi, irigasi alternatif, perpompaan, dan perpipaan. Selain itu, ada pula peningkatan distribusi benih inbrida bagi petani di berbagai daerah Jawa Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....