Journaling Refleksi, Mahasiswa Bantu Warga Binaan Lapas Semarang Kelola Emosi
- 21 Mei 2026 19:55 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang — Mahasiswa Keperawatan Universitas Diponegoro (Undip) membantu warga binaan Lapas Kelas I Semarang mengelola emosi melalui kegiatan journaling refleksi dan penguatan kesehatan mental. Program tersebut menjadi bagian dari pendampingan psikososial untuk membantu warga binaan lebih mengenali diri, mengekspresikan perasaan, serta membangun harapan positif selama menjalani masa pidana.
Kegiatan digelar di Lapas Kelas I Semarang, Kamis, 21 Mei 2026, bekerja sama dengan Klinik Pratama Lapas Semarang. Program tersebut merupakan tindak lanjut dari asesmen awal yang sebelumnya dilakukan guna mengetahui tingkat depresi dan kondisi psikologis warga binaan.
Berdasarkan hasil asesmen, mahasiswa magang bersama pihak klinik menyusun kegiatan pendampingan yang lebih interaktif dan komunikatif. Sebanyak 37 warga binaan dari berbagai perkara mengikuti kegiatan yang dibagi dalam dua kelompok, masing-masing dipandu 5 mahasiswa dan 1 petugas pendamping.
Dalam kegiatan journaling refleksi, warga binaan diajak mengisi kuisioner untuk mengungkapkan perasaan, emosi, dan kondisi batin yang dirasakan selama menjalani masa pidana. Metode tersebut diharapkan menjadi ruang aman bagi warga binaan untuk menyalurkan emosi yang selama ini dipendam.
Selain journaling, mahasiswa juga menghadirkan sejumlah aktivitas reflektif dan edukatif. Salah satunya happiness tree, yakni kegiatan menuliskan harapan, cita-cita, dan keinginan positif pada gambar pohon yang telah disediakan.
Kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan optimisme dan pola pikir positif warga binaan selama menjalani proses pembinaan. Selain itu, ada pula permainan find me yang dilakukan secara berpasangan untuk melatih kekompakan sekaligus membangun hubungan sosial antarpeserta.
Salah satu mahasiswa Keperawatan Undip, Meylani mengatakan, kegiatan tersebut merupakan implementasi ilmu yang dipelajari selama perkuliahan, khususnya bidang kesehatan mental dan keperawatan komunitas. Program itu juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa magang selama kurang lebih tiga bulan di Lapas Semarang.
Salah satu warga binaan berinisial JW berpendapat, kegiatan serupa sebaiknya dilaksanakan lebih sering sebagai sarana hiburan bagi narapidana. “Sebagian memang tidak produktif, tidak banyak aktivitas, sehingga cuman bengong saja,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari mendukung kegiatan penguatan mental tersebut sebagai bagian dari pembinaan warga binaan. “Melalui kegiatan ini, pendekatan psikososial sederhana seperti journaling refleksi dapat membantu warga binaan lebih mengenal diri sendiri, mengelola emosi dengan baik, serta membangun harapan positif selama menjalani proses pembinaan di dalam lapas,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....