Gus Yasin Dorong Santri Korban Pelecehan Berani Speak Up
- 07 Mei 2026 15:34 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong para santri, baik laki-laki maupun perempuan, untuk berani speak up apabila mengalami tindak kekerasan maupun pelecehan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren. Hal itu disampaikan menyusul terungkapnya kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan oknum pengasuh pondok pesantren asal Kabupaten Pati berinisial AS.
Menurut Gus Yasin, kasus tersebut sebenarnya telah terpantau sejak tahun 2024. Namun proses pengungkapan baru dapat berjalan setelah adanya keberanian dari para korban untuk berbicara dan melapor. Ia mengapresiasi peran masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, hingga organisasi keagamaan seperti NU yang turut mendampingi korban agar berani menyampaikan kejadian yang dialami.
“Kami mengapresiasi masyarakat dan lembaga-lembaga yang bergerak mendampingi korban sehingga mereka berani speak up. Ini penting agar kasus kekerasan terhadap anak bisa terungkap dan ditangani,” ujarnya, Kamis, 7 Mei 2026.
Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat program Kecamatan Berdaya yang salah satu fokusnya memberikan pendampingan hukum bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Program tersebut juga melibatkan organisasi masyarakat seperti Muslimat NU, Fatayat NU, hingga Aisyiyah dalam pelatihan paralegal dan edukasi pencegahan kekerasan.
Selain mengawal proses hukum, Pemprov Jateng juga memberi perhatian terhadap pemulihan psikologis dan pendidikan korban. Gus Yasin menegaskan anak-anak korban kekerasan seksual harus tetap mendapatkan hak pendidikan dan pendampingan agar tidak kehilangan masa depan.
“Kami ingin memastikan anak-anak yang menjadi korban tetap berani sekolah dan melanjutkan masa depannya. Itu yang paling penting,” katanya.
Terkait pencegahan di lingkungan pondok pesantren, Gus Yasin menyebut pihaknya telah bekerja sama dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) dan berbagai pihak untuk mengedukasi pengasuh pesantren mengenai perlindungan anak dan perempuan. Bahkan, dalam waktu dekat, edukasi serupa akan kembali digelar di wilayah Jawa Tengah bagian barat.
Ia juga menegaskan, kasus kekerasan seksual tidak hanya terjadi di pondok pesantren, tetapi juga bisa muncul di lingkungan pendidikan lainnya. Karena itu, keberanian korban untuk melapor menjadi kunci utama pencegahan dan penanganan kasus.
“Sekecil apa pun bentuk kekerasan harus berani dilaporkan. Anak-anak harus berani bicara supaya bisa segera ditangani,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....