Revitalisasi Sekolah di Purworejo Dikebut, Hadapi Tantangan Lahan hingga SDM

  • 15 Apr 2026 21:35 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Program revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Purworejo terus dikebut sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan. Namun, di balik capaian tersebut, sejumlah tantangan masih dihadapi, mulai dari keterbatasan lahan hingga kekurangan tenaga pendidik.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Sigit Supriyanto, menyebut pada tahun 2025 terdapat 21 satuan pendidikan yang telah mendapatkan program revitalisasi. Program tersebut mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA dan SMK.

“Untuk tahun 2025, Kabupaten Purworejo mendapatkan revitalisasi 21 lembaga. Terdiri dari PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK,” ujarnya dalam wawancara Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Selasa, 14 April 2026.

Pada 2026, pemerintah daerah kembali mengusulkan revitalisasi dalam jumlah lebih besar, yakni puluhan sekolah di berbagai jenjang. Usulan tersebut mencakup 47 SD, 18 PAUD, dan 13 SMP yang diharapkan dapat meningkatkan pemerataan kualitas sarana pendidikan.

Meski demikian, pelaksanaan revitalisasi di lapangan tidak lepas dari berbagai kendala teknis. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia di tingkat sekolah yang belum sepenuhnya memahami aspek konstruksi bangunan.

“Panitia di sekolah itu belum semuanya menguasai teknis konstruksi. Perlu didorong agar melibatkan tenaga yang benar-benar paham,” katanya.

Selain itu, waktu pelaksanaan yang relatif singkat juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam beberapa kasus, sekolah harus segera mengeksekusi pembangunan setelah persetujuan turun, sehingga perencanaan harus dilakukan secara cepat.

Kendala lain yang dihadapi adalah keterbatasan lahan dan fasilitas pendukung di sekolah. Tidak sedikit sekolah yang harus meminjam tempat lain, seperti balai desa, untuk tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar selama proses revitalisasi berlangsung.

Di sisi lain, persoalan kekurangan tenaga pendidik juga menjadi perhatian serius. Setiap tahun, Kabupaten Purworejo kehilangan sekitar 300 hingga 400 guru akibat pensiun, sehingga memengaruhi ketersediaan tenaga pengajar di sekolah.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah daerah menerapkan strategi efisiensi dengan mengoptimalkan tenaga honorer serta menambah jam mengajar guru yang ada. Langkah ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan pembelajaran sambil menunggu penambahan formasi guru baru.

“Strateginya dengan optimalisasi tenaga yang ada dan penambahan jam mengajar. Sambil tetap mengusulkan formasi ASN untuk guru,” ujarnya.

Ke depan, pemerintah daerah menilai revitalisasi sarana pendidikan harus berjalan beriringan dengan penguatan sumber daya manusia. Dengan demikian, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya ditopang oleh infrastruktur, tetapi juga oleh tenaga pendidik yang memadai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....