Dampak PJJ Bagi Mahasiswa, Efisiensi Transportasi dan Biaya Kuota
- 12 Apr 2026 22:52 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Salatiga – Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan di perguruan tinggi memberikan dampak ekonomi yang kontradiktif bagi mahasiswa antara efisiensi transportasi dan pembengkakan biaya digital. Fenomena ini memicu pergeseran pola pengeluaran mahasiswa yang kini harus beradaptasi dengan tingginya kebutuhan kuota internet di tengah upaya penghematan harian.
Kebijakan ini sejatinya mampu memangkas anggaran bahan bakar minyak secara signifikan bagi mahasiswa yang biasanya menempuh perjalanan menuju kampus. Namun, di sisi lain, biaya operasional pribadi justru meningkat seiring ketergantungan pada koneksi internet mandiri untuk menunjang aktivitas akademik daring.
Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang (Unnes), Ringgo Ageng Pramana, menilai efisiensi bensin selama PJJ memang terasa. Namun beban tersebut langsung beralih pada pemenuhan kebutuhan data seluler.
“Saya sih cukup irit untuk kebutuhan bensin karena kita ngga memerlukan kendaraan untuk berangkat ke tempat kuliah sih. Tapi kalau untuk kuota, misal rumahnya ngga ada Wi-Fi itu cukup terasa sih karena memerlukan untuk membeli kuota lebih,” ujarnya menanggapi dampak ekonomi perkuliahan daring. Sabtu 11 April 2026.
Selain aspek finansial, ia juga menyoroti kendala efektivitas bimbingan akademik yang dirasakan kurang maksimal selama dilakukan secara jarak jauh. Hal ini jadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa tingkat akhir yang membutuhkan umpan balik responsif dari tenaga pendidik di tengah kesibukan yang ada.
“Lebih milih ketemu langsung ya karena bisa mendapatkan feedback secara langsung dari dosen dan komunikasinya menjadi lebih enak. Karena kalau online itu pasti biasanya dosen kan ada kesibukan, istilah bahasa Jawanya itu disambi gitu kan. Jadi feedback dari dosen terhadap karya kita itu jadi kurang maksimal,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, mahasiswa Unnes lainnya, Regeng Dwi Raharjo, menekankan, manajemen pengeluaran saat PJJ justru terasa lebih berat dibandingkan kuliah luring. Tanpa adanya dukungan fasilitas Wi-Fi kampus, mahasiswa harus menanggung biaya internet secara mandiri yang jika dikalkulasi justru lebih tinggi dari biaya operasional normal.
“PJJ itu menurut saya kalau dikalkulasi dengan biaya kuota itu cukup menghabiskan banyak uang sih daripada kegiatan pembelajaran normal di perkuliahan. Karena kan kalau kita belajar lewat daring itu kita perlu kuota juga, sedangkan kalau di perkuliahan kan sudah ada Wi-Fi,” pungkasnya saat memberikan keterangan pada Sabtu siang. (eka)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....