Ratusan Mahasiswa UIN Bakal Terjun ke Desa, Perkuat Program PKK-Posyandu Jateng

  • 19 Agt 2026 11:13 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Lebih dari 500 mahasiswa UIN Walisongo Semarang bakal terjun langsung ke desa-desa di Jawa Tengah melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik pada Oktober 2026. Mereka akan berkolaborasi dengan TP PKK dan TP Posyandu Jawa Tengah untuk memperkuat berbagai program pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhan di lapangan.

Kolaborasi tersebut tidak sekadar menempatkan mahasiswa sebagai peserta KKN, tetapi juga mengintegrasikan keilmuan mereka dengan program yang telah berjalan di masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu memperluas dampak program PKK dan Posyandu, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan ekonomi masyarakat desa.

Kerja sama itu ditandai dengan penyusunan draf Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Ketua TP PKK dan TP Posyandu Jateng Nawal Arafah Yasin dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo. Penyusunan draf tersebut dilakukan di Rumah Dinas Wakil Gubernur Jawa Tengah, Selasa 18 Agustus 2026.

"Nanti di bulan Oktober kita akan melakukan kolaborasi untuk KKN tematik bersama dengan 500 sekian mahasiswa. Nanti akan kita integrasikan, kita kolaborasikan, dengan Posyandu yang ada," ujar Nawal.

Menurut Nawal, penempatan mahasiswa akan disesuaikan dengan bidang studi yang mereka kuasai serta kebutuhan masyarakat di lokasi KKN. Skema tersebut menjadi penting karena Posyandu kini tidak lagi hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi telah berperan dalam enam standar pelayanan minimal (SPM).

Enam bidang tersebut mencakup pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan sosial. Perluasan peran itu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.

Di bidang pendidikan, misalnya, TP Posyandu Jateng memiliki program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berbasis masyarakat dan penguatan literasi. Program tersebut dapat diperkuat mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo sesuai kompetensi yang dimiliki.

Tak hanya Posyandu, sejumlah program TP PKK Jateng juga akan menjadi bagian dari kegiatan mahasiswa selama berada di desa. Di antaranya pengelolaan sampah dan minyak jelantah menjadi peluang usaha, pendampingan UMKM, serta edukasi bagi perempuan dan kelompok rentan.

"Termasuk Pusat Studi Gender yang ada di UIN, juga ini nanti akan kita kolaborasikan untuk menguatkan isu-isu tentang perempuan. Misalnya, isu-isu kekerasan, terus disabilitas, tentang paralegal, dan sebagainya," ucap Nawal.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga bukan kali pertama dilakukan TP PKK dan TP Posyandu Jateng untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat. Sebelumnya, kerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dilakukan untuk memperkuat kesehatan mental di layanan Posyandu dan pendampingan konseling bagi korban bencana.

Nawal mengatakan, sinergi tersebut sejalan dengan prinsip collaborative governance yang diterapkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin. Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi banyak pihak, termasuk perguruan tinggi yang memiliki sumber daya keilmuan dan mahasiswa.

Saat ini, kedua pihak masih mematangkan poin-poin kerja sama sebelum KKN Tematik dimulai pada Oktober 2026. Mahasiswa akan terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dan sosialisasi agar program yang dijalankan selaras dengan kebutuhan masyarakat serta agenda TP PKK dan Posyandu.

"Kegiatan KKN akan dilakukan serentak, yang kemudian bisa kolaborasikan dengan kegiatan-kegiatan (TP PKK dan Posyandu) yang sudah kita lakukan. Nanti sekitar 45 hari mereka melakukan KKN," beber Nawal.

Ketua LP2M UIN Walisongo Semarang Abdul Ghofur menyambut positif kerja sama tersebut karena sejalan dengan fokus KKN UIN Walisongo yang menyasar masyarakat desa. Keberadaan kader PKK dan Posyandu di tingkat desa dinilai menjadi pintu masuk yang strategis untuk memperkuat pelaksanaan program mahasiswa.

Program yang berpotensi dikolaborasikan meliputi pelatihan pengelolaan sampah dan minyak jelantah, penguatan layanan PAUD, pemberdayaan perempuan, hingga pencegahan stunting. Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman bagi mahasiswa, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat desa.

"Jadi, harapan kami nanti ke depan, kita bisa saling menguatkan. Memberdayakan masyarakat umumnya dan mahasiswa khususnya," ujar Abdul Ghofur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....