Perkuat Jateng Jadi Sentra Batik Nasional, Pengrajin Diminta Inovasi Produknya

  • 05 Apr 2026 12:20 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Jawa Tengah terus meneguhkan posisinya sebagai pusat produksi batik nasional dengan potensi besar yang dimiliki. Pengrajin didorong tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga meningkatkan nilai tambah melalui inovasi produk.

Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengajak para pengrajin memperkuat peran tersebut dalam kegiatan Gemas Sanloka di Kota Salatiga, Sabtu 4 April 2026 malam. Penting menjaga eksistensi batik sebagai identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi daerah.

Menurut Nawal, batik merupakan wastra nusantara yang menjadi andalan Jawa Tengah hingga tingkat global. Berdasarkan data, jumlah produsen batik di provinsi ini jauh melampaui daerah lain sehingga menjadi modal besar untuk terus berkembang.

Berdasarkan data Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian, pada 2024 Jateng tercatat memiliki 2.299 unit produsen batik. Jumlah tersebut jauh melampaui provinsi lain, seperti Jawa Timur dengan 216 unit, Di Yogyakarta sebanyak 180 unit, dan Jawa Barat dengan 115 unit produsen batik.

“Ini merupakan potensi besar. Mari kita jaga bersama-sama warisan budaya Jawa Tengah ini, terutama batik dan berbagai wastra lainnya,” ungkapnya. Kolaborasi antarpelaku dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sektor tersebut.

Ia menambahkan, tantangan ke depan tidak hanya berhenti pada produksi kain batik semata. Para pengrajin perlu meningkatkan nilai jual melalui inovasi produk yang lebih modern dan sesuai kebutuhan pasar.

"Untuk meningkatkan nilai jualnya, kita bisa meningkatkan dengan bagaimana kainnya ini menjadi ready to wear. Sehingga, pelatihan-pelatihan ready to wear sangat dibutuhkan untuk saat ini," imbuh Nawal. Langkah tersebut dinilai dapat membuka peluang pasar yang lebih luas, khususnya di sektor fesyen.

Dalam kesempatan itu, Nawal turut menyaksikan parade busana yang menampilkan berbagai karya wastra lokal. Kegiatan tersebut melibatkan istri Forkopimda, kepala OPD perempuan Pemkot Salatiga, serta pelajar SMK.

Puluhan peserta tampil layaknya model profesional dengan mengenakan beragam busana berbahan batik, tenun, dan lurik. Produk yang ditampilkan merupakan hasil karya pelajar dan pengrajin lokal dari berbagai daerah.

Nawal juga mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan pelaku UMKM. Selain fashion show, acara tersebut menghadirkan puluhan UMKM yang turut menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ia berharap kegiatan serupa dapat diperbanyak di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah. Upaya ini dinilai sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dan Wakil Gubernur, Taj Yasin Maimoen, dalam mendorong UMKM sebagai motor ekonomi.

“Mudah-mudahan ini menjadi penggerak ekonomi di Kota Salatiga. Saya ucapkan selamat, karena meskipun dipersiapkan dalam waktu dua pekan, kegiatan ini mampu menyajikan padu padan wastra lokal yang sustainable,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Salatiga, Retno Robby Hermawan, menyampaikan bahwa Gemas Sanloka bertujuan mengedukasi masyarakat. Ia ingin mendorong kecintaan terhadap produk sandang lokal sebagai bagian dari identitas budaya.

"Kami ingin memperkenalkan bahwa kain tradisional kita, baik itu batik, tenun, maupun lurik, bukan sekadar kain tua. Kami berharap masyarakat Salatiga dapat mencintai dan melestarikan warisan budaya nusantara, serta menghargai apa yang lahir dari bumi sendiri," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....