Samuel Wattimena Ajak Masyarakat Jaga Perdamaian Nusantara
- 29 Mar 2026 00:04 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Ambarawa - Anggota Komisi VII DPR RI Samuel JD Wattimena mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kondisi Indonesia agar tetap damai. Hal itu ia sampaikan usai mengikuti Doa Untuk Perdamaian Nusantara, bersama tokoh lintas agama, budayawan dan anggota komunitas, di Benteng Fort Willem Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu 28 Maret 2026.
Samuel mengaku senang, karena dapat terlibat dalam kegiatan doa bersama para tokoh lintas agama, yang diawali dengan kirab budaya. “Itu semua (tokoh lintas agama) bersatu kemudian kita berprosesi untuk berkumpul dan berdoa bersama,” katanya.
“Kita berdoa untuk nusantara yang sedang tidak baik-baik saja dan bukan hanya para tokoh agama, tapi juga masyarakat yang hadir untuk berdoa dengan caranya masing-masing, untuk keadaan Indonesia saat ini supaya kita sama-sama mewujudkan ketentraman di hati,” tambahnya.

Ia mengungkapkan, beberapa kunci untuk menjaga perdamaian di Indonesia antara lain adalah selalu bersyukur, rasa empati dan suka cita. “Karena menurut saya dengan sukacita, kita kemudian mendapatkan berkah dan hikmat dari semesta dan kita pasti akan mendapatkan kepekaan di dalam diri kita masing-masing,” jelasnya.
Samuel menilai kirab budaya yang dilaksanakan di Benteng Fort Willem ini, seharusnya tidak hanya pada kegiatan doa bersama, namun sudah layak digelar untuk digabungkan dengan acara kekinian. “Supaya apa yang terjadi di masa lalu, kebudayaan kita yang ada jangan lepas dari masyarakat atau generasi saat ini,” ujarnya.
Dia juga meminta generasi muda saat ini, jangan menilai bahwa kirab dan kegiatan budaya adalah masa lalu. “Bagaimana yang masa lalu ini justru menghampiri yang muda untuk mengajak melakukan kirab ini dengan pemahaman kebudayaan,” tuturnya.
Ia meyakini, jika generasi muda sudah senang dengan budaya lokal, maka mereka akan menggelar kirab atau kegiatan budaya lainnya sesuai versi mereka. “Yang namanya kebudayaan ini akan terus berjalan. Suka tidak suka, mau tidak mau, yang namanya kebudayaan dia akan terus berjalan,” ungkapnya.
“Yang namanya kirab, kebudayaan, perilaku kebudayaan yang diekspresikan melalui seni (adalah) emas,” pungkasnya. Hadir dalam Doa Untuk Perdamaian Nusantara ini perwakilan tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khonghucu serta penganut Kepercayaan, yang kemudian menyampaikan doa sesuai agama masing-masing dan diakhiri dengan pelepasan lampion ke langit.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....