Ribuan Warga Muhammadiyah Salat Idulditri di Unimus Semarang
- 20 Mar 2026 07:58 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang — Ribuan warga Muhammadiyah melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di halaman Rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Jumat, 20 Maret 2026. Salat Idulfitri tersebut dilaksanakan berdasarkan keputusan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari tersebut.
Pada Salat Id kali ini, bertindak sebagai imam, Ustaz dr. S. Adjie Prayogo, sementara khutbah disampaikan oleh Dr. Karnadi Hasan, M.Pd dengan tema “Idulfitri Merekonstruksi Nilai-nilai Kemanusiaan di Era Disrupsi”. Dalam khutbahnya, Karnadi mengajak umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. secara menyeluruh.
Menurutnya, ketakwaan tidak hanya bersifat ritual. Akan tetapi, juga harus mampu mengubah cara pandang dan tindakan sehingga memberi makna bagi lingkungan sekitar.
Ia menekankan pentingnya menjaga kepribadian yang kokoh setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. “Bagaimana kita tetap membangun kepribadian yang kokoh setelah sebulan lamanya kita latih melalui puasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, puasa membentuk kepedulian sosial dan melatih seseorang untuk istiqamah. Selain itu, juga menumbuhkan kesadaran diri agar berpihak kepada masyarakat yang membutuhkan.
Karnadi menambahkan, Idulfitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya. Fitrah tersebut mencakup aspek tauhid, akal dalam beragama, serta dimensi akhlak yang cenderung kepada kebaikan.
“Idulfitri adalah hari kemenangan. Saat kita saling memaafkan atas kesalahan dan kekhilafan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memahami makna kemanusiaan dalam ibadah puasa dan Idulfitri. Menurutnya, terdapat dua aspek utama yang perlu direkonstruksi, yakni aspek individual dan aspek sosial.
Aspek individual berkaitan dengan pembentukan karakter dan kesadaran diri, sedangkan aspek sosial menekankan nilai kepedulian terhadap sesama, khususnya, bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan. “Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari tujuan utama puasa, yakni mencapai ketakwaan,” ungkapnya.
Di akhir khutbah, Karnadi mengajak umat Islam untuk terus mengasah spiritualitas agar menjadi manusia yang utuh, yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan kemuliaan akhlak. “Manusia ideal adalah yang mampu menyeimbangkan hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....