Halo RRI: Pedagang Kecil Keluhkan Menjamurnya Minimarket
- 23 Feb 2026 13:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Pedagang kecil di pasar semi modern hingga warung kelontong kampung kompak mengeluhkan menjamurnya minimarket. Mereka meminta pemerintah membatasi keberadaannya demi menjaga keberlangsungan usaha kecil.
Salah satu pedagang snack di Pasar Bulu Semarang, Evi, mengungkapkan bahwa kehadiran minimarket dan swalayan berdampak langsung pada merosotnya jumlah pembeli di pasar tradisional. Ia juga menyoroti kebijakan Koperasi Merah Putih (Kopdes) agar nantinya tidak justru memperparah kondisi pasar rakyat. "Minimarket dampaknya kan di pasar juga, apalagi ada swalayan dampaknya orang pada berbondong ke swalayan, terus koperasi merah putih kan ya berdampak juga, kan sekarang banyak sih enggak pasar Bulu aja, pasar Karangayu, pasar Jerakah pada komplain, ngeluh pasarnya kok sepi," tuturnya, Senin 23 Februari 2026.
Menurut Evi, penurunan pembeli sudah terasa sejak beberapa tahun terakhir dan semakin berat pada tahun ini. Ia membandingkan kondisi sekarang dengan awal 2000-an saat usahanya masih ramai. "Dari tahun lalu udah sepi kok, apa lagi ini cari kerja juga sulit, kerja juga banyak yang di PHK.Kita nyari duit sehari. 100 rb aja sulit, kadang dari pagi jam 7 buka sampapi jama 1 siang dapat ga dapet duit sama sekali," ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat mengatur pertumbuhan minimarket agar pasar tradisional tidak semakin tergerus. Evi ingin kejayaan pasar rakyat bisa kembali seperti dulu. "Jadinya ya seumpamanya kemudian dikembalikan lagi ke pasar tradisional biar pasar-pasar tidak mati," tandasnya.
Keluhan serupa disampaikan Sofi, pemilik warung rumahan. Ia menilai minimarket kini tidak hanya berdiri di jalan besar, tetapi juga masuk hingga ke kawasan perumahan. "Dulukan minimarket masih dipinggir jalan besar sekarang mau masuk jalan perumahan aja udah ada, ya kalau dihapuskan pasti ga bisa kasihan juga karyawannya, tapi dibatasilah jaraknya biar ga terlalu banyak," tuturnya.
Menurut Sofi, kelengkapan barang di minimarket membuat warung kecil sulit bersaing. Meski menawarkan harga lebih murah, konsumen tetap memilih tempat yang menyediakan kebutuhan secara lengkap. "Sayakan jualan ini, biar harganya lebih murah dari minimarket tapi kalau di minimarketkan lengkap apa-apa ada jadi ya banyak yang lebih beli ke sana," tandasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia, mengatakan pembatasan atau penutupan minimarket tidak bisa dilakukan secara serta-merta. Fenomena ini, menurutnya, terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. "Banyak dampaknya lah tidak semudah itu kita menutup gitu sebetulnya," ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan minimarket juga berkaitan dengan penyerapan tenaga kerja yang perlu dipertimbangkan. Karena itu, pendekatan yang ditempuh lebih pada kemitraan. "Yang sedang kita tempuh saat ini adalah kita berkomunikasi dengan toko-toko retail itu terutama yang maaf saya kayak seperti Indomaret gitu ya, untuk bekerja sama. Sehingga petani-petani kita di masing-masing kiosnya itu ada semacam pojok inflasi lah katakan namanya itu untuk produk-produk yang dari petani kita itu, itu yang sudah di rancang untuk di dapat direalisasi," tuturnya.
Sejauh ini, pemerintah daerah telah memiliki aturan mengenai jarak antar minimarket. Regulasi tersebut diharapkan dapat mengendalikan pertumbuhan gerai agar tetap seimbang dengan keberadaan pasar dan warung tradisional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....