Pasar Gedhe Solo, Penjaga Tradisi Budaya di Tengah Arus Zaman
- 11 Feb 2026 14:59 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Pagi beranjak siang geliat Pasar Gedhe Hardjonagoro di jantung Kota Solo makin terasa. Aroma rempah, suara tawar-menawar, dan langkah para pedagang yang telah puluhan tahun menempati los yang sama menciptakan irama khas yang tak berubah sejak masa kolonial.
Di sinilah Pasar Gedhe bukan sekadar ruang transaksi ekonomi, tetapi penjaga hidup tradisi budaya Jawa.
Dibangun pada 1930 oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten, Pasar Gedhe merepresentasikan perpaduan arsitektur Eropa dan filosofi tata ruang Jawa.
Bangunan kokoh bergaya art deco ini tidak hanya menjadi saksi sejarah perkembangan Kota Solo, tetapi juga simbol keberlanjutan nilai-nilai lokal yang masih dijaga hingga kini.
Pasar Gedhe juga menjadi ruang sosial yang hidup. Di era digital dan menjamurnya pasar modern, eksistensi Pasar Gedhe menjadi magnet bagi wisatawan.
Ketika berbagai alternatif wisata kota Solo ditawarkan, pasar Gedhe menjadi salah satu pilihan. "Pasar Gedhe ini tidak sekedar transaksi jual beli namun ada tradisi yang tidak luntur, sehingga saat berada di Solo sering menyempatkan mampir kesini, " kata Ani seorang warga Semarang
Ia bersama rombongan dari Solo memilih pasar Gedhe sebagai salah satu destinasi wisata belanja. "Saya bersama rombongan membeli oleh oleh dan mencicipi kuliner es dawet, gempol dan jajanan lainnya, pasar Gedhe sangat alami dan otentik," kata Yati warga Semarang
Pasar Gedhe membuktikan bahwa modernisasi tidak harus memutus tradisi. Di balik hiruk-pikuk aktivitas ekonomi, pasar ini tetap berdiri sebagai penjaga budaya, tempat nilai, sejarah serta menjadi alternatif wisata tradisi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....