Puasa 19 Jam di Berlin, Ini Cerita Guru Besar Undip
- 02 Mar 2026 23:19 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Menjalankan ibadah puasa di Eropa memiliki tantangan tersendiri, terutama saat Ramadan jatuh pada musim panas. Hal itu dirasakan Guru Besar Teknik Industri Universitas Diponegoro, Arfan Bakhtiar, saat menempuh studi doktoral di Berlin, Jerman.
Prof. Arfan menuturkan dirinya tinggal di Berlin bersama istri dan keluarga selama kurang lebih empat tahun untuk menyelesaikan studi S3 melalui program beasiswa. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah menjalankan puasa dengan durasi waktu yang jauh lebih panjang dibandingkan di Indonesia.
“Kalau di Indonesia puasa sekitar 12 sampai 14 jam. Di Jerman, khususnya saat musim panas, buka puasa bisa jam 9 malam dan imsak sekitar jam 2 pagi. Jadi memang menantang,” katanya saat wawancara di RRI Senin, 2 Maret 2026.
Ia mengingat, pada Ramadan tahun 2014, durasi puasa terasa sangat panjang karena bertepatan dengan puncak musim panas di Jerman. Siang hari berlangsung lebih lama, bahkan hingga pukul 7 malam matahari masih bersinar terang.
| Baca juga: Es Marem Minuman Favorit Saat Berbuka Puasa |
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi menjaga stamina agar tetap produktif menjalankan aktivitas akademik. Setiap hari ia tetap berangkat ke kampus untuk riset sejak pagi dan pulang sore hari.
“Yang penting jangan sampai melewatkan sahur. Itu kunci utama. Selain itu, tetap jaga aktivitas fisik agar tubuh tetap bugar,” katanya.
Meski durasi puasa panjang, ia menegaskan hal itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Sebab, kalender hijriah atau komariah membuat waktu Ramadan terus bergeser setiap tahun, sehingga durasi puasa di Eropa bisa lebih pendek ketika jatuh pada musim dingin.
“Kalau bulan Desember misalnya, justru lebih pendek dari Indonesia karena jam 5 sore sudah magrib. Jadi jangan berpikir puasa di Berlin selalu lama,” jelasnya.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa Indonesia yang tengah atau akan menempuh studi di luar negeri agar pandai memilih lingkungan pergaulan dan tetap menjaga sahur. “Kalau sudah terbiasa, lama-lama tidak ada masalah. Yang penting jaga kesehatan dan jangan lupa sahur,” pesannya. (ARITSU/royce)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....