Pengamat: Sweeping Bukan Solusi, Etika Jadi Kunci Hormati Ramadan
- 26 Feb 2026 18:15 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Pembatasan jam operasional tempat hiburan selama Ramadan seharusnya bertumpu pada kesadaran etika masyarakat, bukan pendekatan represif seperti sweeping. Hal itu diungkapkan Pengamat sosial Soegijapranata Catholic University, Hermawan Pancasiwi dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Rabu, 25 Februari 2026.
Ia menilai bangsa Indonesia telah lama hidup dalam kemajemukan. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya sudah cukup dewasa untuk saling menjaga diri tanpa perlu tekanan berulang setiap tahun.
Ia mengatakan, langkah pemaksaan justru berpotensi menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat majemuk. “Kita ini bangsa yang sudah sekian puluh tahun merdeka dan hidup dalam kemajemukan, mestinya sudah dewasa untuk bisa membatasi diri,” ujarnya.
| Baca juga: MUI Purworejo Atur Teknis MBG Saat Ramadan |
Menurutnya, penghormatan terhadap Ramadan bukan semata persoalan hukum, melainkan lebih menyangkut dimensi etika dalam kehidupan bersama.“Yang sedang kita hadapi sekarang adalah pendewasaan masyarakat yang didasarkan pada dasar etika,” katanya.
Hermawan menjelaskan, hukum berbicara tentang benar dan salah, sedangkan etika menyangkut baik dan buruk serta kepantasan. Dalam konteks Ramadan, yang dibutuhkan adalah kesadaran moral, tidak sekadar ancaman sanksi.
Ia juga menilai praktik sweeping tidak menyelesaikan akar persoalan. Bahkan, langkah tersebut dapat memicu perlawanan dan memperkeruh suasana sosial.
“Sweeping bukan untuk menyelesaikan masalah. Kebanyakan justru menimbulkan masalah,” katanya.
Hermawan mengingatkan, ada kemungkinan isu-isu keagamaan dimunculkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan pribadi. Hal-hal yang sebelumnya berjalan baik, bisa saja diprovokasi menjadi polemik.
Ia pun mendukung agar pemerintah cukup mengeluarkan imbauan secara proporsional di awal Ramadan. Selanjutnya, masyarakat diberi ruang untuk menunjukkan kedewasaan dalam bersikap.
Kesadaran untuk membatasi diri menjadi bentuk penghormatan tanpa harus dipaksa. “Yang penting kita sama-sama tahu, memahami, lalu saling menghargai,” ujarnya.
Dengan pendekatan berbasis etika dan kesadaran kolektif, ia optimistis penghormatan terhadap Ramadan dapat terjaga tanpa gesekan sosial. Sebab, harmoni dalam masyarakat majemuk hanya bisa tumbuh melalui kedewasaan bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....