Masyarakat Jawa Kaledonia Baru Antusias Sambut Ramadan 1447H
- 24 Feb 2026 06:51 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, KALEDONIA BARU: Ribuan kilometer dari Indonesia, bahasa Jawa masih terdengar akrab di tengah nyanyian Prancis dan upacara penghormatan leluhur. Perayaan 130 tahun masyarakat keturunan Jawa se-Kaledonia Baru bukan sekadar acara nostalgia, tetapi menjadi potret perjalanan panjang diaspora dari masa pekerja kolonial hingga komunitas lintas generasi yang kini berjuang menjaga iman dan identitas.
Hal ini disaksikan langsung Nasirudin Al Ahsani, Lc., M.Ag., salah satu Dai Ambassador Dompet Dhuafa yang menjalankan tugas dakwah di Noumea, Kaledonia Baru.
Dalam rilis Senin, 23 Februari 2026. Ratusan warga keturunan Jawa berkumpul dalam perayaan 130 tahun masyarakat Jawa se-Kaledonia Baru yang berlangsung penuh nuansa sejarah dan kebersamaan.
Nasirudin Al Ahsani mengisahkan, setibanya di area peringatan, rangkaian sambutan digelar sebelum peserta melakukan penghormatan kepada nenek moyang. Setelah prosesi resmi, suasana berubah lebih hangat dengan nyanyian bersama dan ramah tamah.
“Di sini antusiasme masyarakat begitu terasa terutama menjelang Ramadan. Banyak yang menanyakan kedatangan dai dan berharap adanya pembinaan keagamaan di Noumea. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi kami para dai dan pembina komunitas untuk kembali menanamkan nilai keimanan sejak dasar,” jelas Nasirudin Al Ahsani.
Ia juga menyampaikan, tradisi leluhur masih terlihat dalam kehidupan masyarakat. Lembaga pengurusan jenazah dengan ratusan anggota tetap menjalankan tahlil dan adzan. Meskipun beberapa unsur budaya lama seperti sesajen masih ditemukan sebagai bagian dari warisan sejarah.
“Percakapan menggunakan bahasa Jawa ngoko yang lugas menjadi pengalaman unik. Karena bentuk bahasa halus justru kurang dipahami di lingkungan setempat,” lanjut Nasirudin, di sela menjalankan dakwah Dai Ambassador Dompet Dhuafa.
Menurutnya, perayaan 130 tahun tersebut memperlihatkan sejarah diaspora Jawa di Kaledonia Baru bukan sekadar cerita masa lalu. Ia hidup dalam bahasa, tradisi, dan semangat kebersamaan yang terus diwariskan.
“Di tengah perubahan zaman, komunitas ini berusaha menjaga akar budaya, sekaligus menghadapi tantangan baru. Tujuannya agar identitas tetap terjaga bagi generasi yang akan datang,” jelasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....