Mengenal Bubur India, Kuliner Ramadan Semarang yang Dinanti

  • 19 Feb 2026 15:18 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Sebagai kota yang berisi beragam kebudayaan, Semarang memiliki beberapa referensi kuliner yang menarik, salah satunya adalah Bubur India. Bubur India menjadi makanan khas dari Semarang yang secara khusus disajikan di bulan Ramadan.

Tradisi Bubur India yang sudah berlangsung selama 100 tahun ini menjadi hal yang dinanti sebagai menu berbuka puasa. Kuliner khusus berbuka puasa ini hanya ada di Masjid Jami’ Pekojan, Semarang.

Alasan dibalik penamaan Bubur India adalah karena yang mengajarkan pembuatan bubur ini adalah orang India. Sebagai bangsa yang memanfaatkan rerempahan dalam kuliner mereka, tidak heran bila Bubur India menjadi kaya akan rasa.

Pada mulanya, yang digunakan untuk berbuka puasa oleh orang-orang muslim India adalah bubur biasa. Kemudian, para pedagang tersebut menawarkan untuk mengganti dengan bubur India yang lebih kaya rasa.

Ternyata banyak yang menyukainya sehingga tradisi ini masih dilakukan hingga saat ini. Pada bubur ini rempah-rempah yang digunakan adalah kapulaga, kayu manis, dan cengkih.

Selain bumbu yang lebih kaya, Bubur India juga menambahkan sayur dan kare di dalamnya. Hal inilah yang membedakan antara bubur di Jawa dengan India.

Ada kepercayaan pada masyarakat sekitar bahwa Bubur India dapat membawa berkah, menyembuhkan penyakit, dan baik untuk ibu hamil. Oleh karena itu, tidak heran bila banyak orang yang antre untuk mendapatkan bubur untuk disantap dan dibawa pulang.

Jamaah menikmati menu buka puasa bubur india di Masjid Ja,i' Pekojan Semarang. (Foto: Dok. Pemprov Jateng)

Bubur India merupakan rekayasa budaya untuk merekatkan masyarakat muslim India di Kampung Pekojan. Kemudian, rekayasa budaya ini berkembang menjadi salah satu sarana islamisasi masyarakat Jawa.

Hal ini dapat dilihat dari perluasan Masjid Jami’ Pekojan yang secara tersirat menandakan terdapat pertumbuhan masyarakat muslim. Artinya, Bubur India tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari rekayasa budaya saja, tetapi bahkan sarana islamisasi.

Keberadaan Bubur India menjadi gambaran bagaimana masyarakat Jawa menerima Islam tidak hanya dalam bentuk kebendaan saja. Adanya kepercayaan bahwa bubur dapat menjadi “berkah” yang dinanti saat Ramadan merupakan penanda bila Islam diterima masyarakat Jawa. (Wohingati)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....