Akses Olahraga Disabilitas Masih Terbatas, Kemenpora Siapkan Penggerak di Daerah
- 11 Agt 2026 09:58 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Tangerang – Akses olahraga bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga minimnya tenaga pelatih yang memahami kebutuhan setiap individu. Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI) memperkuat kompetensi pelatih dan penggerak olahraga disabilitas melalui Training of Trainers (ToT) di Kota Tangerang, Banten.
Kegiatan yang berlangsung 7-8 Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas partisipasi penyandang disabilitas dalam aktivitas olahraga. Kemenpora berharap peserta ToT dapat menjadi penggerak yang mampu mengembangkan pembinaan olahraga disabilitas secara berkelanjutan di daerah masing-masing.
Plh. Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Budi Ariyanto Muslim, mengatakan Program Pemberdayaan Pelatih Olahraga Disabilitas diarahkan untuk meningkatkan kompetensi pelatih sekaligus memperluas partisipasi olahraga di komunitas disabilitas. Menurutnya, keberadaan pelatih yang kompeten menjadi salah satu faktor penting dalam membuka akses olahraga yang lebih luas.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada NPCI Provinsi Banten dan Kota Tangerang atas dukungan peserta ToT penggerak olahraga disabilitas. Program ini merupakan tindak lanjut program prioritas dan berkelanjutan untuk pembinaan olahraga disabilitas,” ucapnya melalui siaran pers.
Budi berharap ToT tersebut mampu melahirkan penggerak olahraga yang kompeten dan dapat menjadi pengganda program pembinaan di wilayah masing-masing. Langkah tersebut diharapkan turut memperkuat masa depan olahraga disabilitas Indonesia hingga mampu berprestasi di tingkat internasional.
“Kami berharap kegiatan ini melahirkan penggerak-penggerak yang berkompeten dan menjadi awal pembinaan yang berkelanjutan, serta mampu menjadi multiplier di daerah masing-masing. Untuk masa depan olahraga disabilitas Indonesia yang semakin gemilang dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional,” ujarnya.
Pelatih Nasional National Paralympic Committee of Indonesia(NPCI), M. Bram Riyadi, menilai peningkatan kompetensi pelatih penting karena setiap atlet disabilitas memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda. Perbedaan klasifikasi membuat metode latihan maupun pendampingan tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama kepada seluruh atlet.
“Setiap atlet disabilitas memerlukan pendekatan yang berbeda-beda karena memang atlet memiliki masing-masing klasifikasi. Setiap klasifikasi memiliki unsur-unsur berbeda dalam peningkatan kebutuhan latihannya,” katanya.
Menurut Bram, pelatih harus memahami hambatan yang dimiliki setiap atlet agar dapat menentukan metode pendampingan dan latihan yang tepat. Melalui kegiatan ToT, peserta mendapatkan pembekalan teori dan praktik sebagai bekal menjadi penggerak olahraga disabilitas di daerah.
“Pelatih sangat perlu memahami unsur-unsur hambatan yang ada dalam masing-masing atlet disabilitas. Di setiap masing-masing hambatan memiliki cara pendampingan dan proses cara melatihnya yang berbeda-beda,” ucapnya.
Peserta ToT berasal dari berbagai latar belakang, mulai atlet, pelatih, hingga penggerak olahraga disabilitas. Kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber dari NPCI Pusat dan Universitas Negeri Surakarta untuk memperkuat materi pembinaan.
Salah seorang peserta, Citra, mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai cara mengenali profil, kemampuan, potensi, serta hambatan yang dimiliki peserta didik. Pengetahuan tersebut dinilai membantunya memodifikasi alat bantu latihan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri para murid.
“Saya mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara mengetahui profil dari para murid terkait dengan kemampuannya, potensi yang dimiliki dan kekurangan atau hambatan yang dimilikinya. Sehingga saya juga dapat memodifikasi alat bantu yang dapat menunjang latihan lebih giat lagi. Selain itu untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri dari murid itu sendiri,” tutur guru Sekolah Khusus ini.
Berdasarkan data BPS 2024 yang disampaikan Kemenpora, terdapat sekitar 22,9 juta penyandang disabilitas atau sekitar 8,5 hingga 9 persen dari populasi nasional. Namun, baru sekitar 11,6 persen penyandang disabilitas yang tercatat aktif berolahraga.
Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperluas partisipasi olahraga kelompok disabilitas. Kemenpora mencatat saat ini terdapat 92 pelatih disabilitas dengan latar belakang pelatih National Paralympic Committee Indonesia (NPCI).
Melalui penguatan kompetensi pelatih dan penggerak di daerah, Kemenpora berharap semakin banyak penyandang disabilitas memperoleh akses olahraga yang sesuai kebutuhan. Pembinaan yang lebih inklusif juga diharapkan membuka peluang lahirnya atlet-atlet berprestasi dari berbagai daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....