Kue Keranjang Khas Imlek Sarat Makna Budaya

  • 23 Jan 2026 15:49 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang: Kue keranjang menjadi salah satu sajian utama yang selalu hadir dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Kudapan tradisional ini dikenal luas sebagai simbol harapan, keberuntungan, dan kebersamaan keluarga.

Dalam tradisi Tionghoa, kue keranjang disebut nian gao, yaitu kue berbahan tepung ketan dan gula. Istilah nian gao bermakna peningkatan dari tahun ke tahun sebagai doa kehidupan yang lebih baik.

Kue keranjang dibuat dari bahan sederhana berupa tepung ketan dan gula yang dimasak hingga bertekstur lengket. Proses pengukusan dilakukan dalam waktu lama untuk menghasilkan kekenyalan khas yang menjadi ciri keotentikannya.

Tekstur lengket pada kue keranjang memiliki makna filosofis yang dalam bagi masyarakat Tionghoa. Lengketnya adonan melambangkan hubungan keluarga yang erat serta harapan agar keberuntungan terus melekat.

Bentuk kue keranjang yang bulat juga memiliki arti tersendiri dalam budaya Tionghoa. Bentuk tersebut melambangkan keutuhan, keharmonisan, dan siklus kehidupan yang berkesinambungan.

Secara tradisional, kue keranjang tidak selalu langsung dikonsumsi setelah Imlek. Masyarakat biasanya mengolahnya kembali dengan cara digoreng bersama telur atau dikukus dengan kelapa parut.

Menurut laman Encyclopaedia Britannica, nian gao telah menjadi bagian penting tradisi Tahun Baru Imlek selama berabad-abad di Tiongkok. Hingga kini, kue keranjang tetap dipertahankan sebagai warisan budaya yang sarat makna dan nilai kebersamaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....