RSI Sultan Agung Siap Jadi Pusat Pengembangan Ekonomi Syariah Sektor Kesehatan

  • 03 Okt 2026 13:30 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang menyatakan kesiapan bermitra strategis dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Tengah untuk mengembangkan ekosistem ekonomi syariah di sektor kesehatan. Rumah sakit di bawah Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) itu bahkan menyiapkan diri sebagai pusat pelatihan dan pengembangan ekonomi syariah bidang kesehatan.

Direktur Utama RSI Sultan Agung, Dr. dr. Agus Ujianto, Sp.B., M.Si.Med., mengatakan, sektor kesehatan kini tidak hanya berkaitan dengan pelayanan sosial, tetapi juga menjadi kebutuhan primer sekaligus bagian dari industri yang terus berkembang. Karena itu, kolaborasi lintas lembaga diperlukan agar pertumbuhan bisnis kesehatan tetap berjalan dengan memperhatikan prinsip syariah.

“Sektor kesehatan saat ini bukan lagi sekadar layanan sosial, melainkan kebutuhan primer dan industri bisnis yang terus berkembang pesat. RSI Sultan Agung bersama seluruh jejaring Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung siap berpartner dengan semua pihak, baik ormas, pemerintah, maupun non-pemerintah,” kata Agus dalam siaran pers pada Sabtu 3 Oktober 2026.

Menurut dia, kolaborasi dengan MES Jateng diarahkan untuk membangun ekosistem kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan pasien, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan dan masyarakat. Konsep tersebut sejalan dengan prinsip Maqasid Syariah, antara lain menjaga jiwa (Hifz an-Nafs) dan menjaga harta (Hifz al-Mal).

Sinergi YBWSA dengan MES Jateng diperkuat dengan masuknya sejumlah pimpinan YBWSA dan akademisi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) dalam kepengurusan MES Jawa Tengah. Ketua Pengurus YBWSA Prof. Dr. H. Bambang Tri Bawono, S.H., M.H., dan Rektor Unissula Prof. Dr. H. Gunarto, S.H., M.H., dipercaya sebagai Dewan Pakar MES Jawa Tengah.

Kepengurusan MES Jawa Tengah tersebut dipimpin Reza Budi Artha yang juga menjabat Direktur Utama BUMN PT Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) dan Komisaris BPR Syariah. Keterlibatan unsur yayasan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga ekonomi syariah diharapkan memperkuat ruang kolaborasi dalam pengembangan ekonomi berbasis syariah.

Agus mengatakan, RSI Sultan Agung memiliki sejumlah modal untuk mendukung pengembangan tersebut. Selain berstatus rumah sakit rujukan Tipe B, RSI Sultan Agung juga menjadi Rumah Sakit Pendidikan Utama bagi Fakultas Kedokteran Unissula serta mengembangkan layanan kesehatan berbasis syariah.

Di bidang kedokteran regeneratif, RSI Sultan Agung mengembangkan pusat penelitian dan pelayanan terapi sel atau stem cell. Rumah sakit tersebut juga mengembangkan layanan kedokteran tradisional terintegrasi syariah serta sejumlah layanan unggulan, seperti Sultan Agung Eye Center, Cardiac Center, Endoscopy Center, Urology Center, Islamic Skin & Aesthetic Center, dan Pain Management.

Pengembangan layanan tersebut juga membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. RSI Sultan Agung menyiapkan konsep pusat pelatihan kedokteran dan manajemen rumah sakit berbasis syariah bagi tenaga kesehatan serta pengelola rumah sakit.

Pelatihan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan medis, tetapi juga penguatan kompetensi manajemen dan edupreneurship berbasis syariah. Dengan demikian, tenaga kesehatan diharapkan memiliki kompetensi yang semakin luas dan peluang pengembangan profesional yang lebih besar.

Di sisi lain, RSI Sultan Agung juga membuka peluang keterlibatan UMKM dan pelaku usaha binaan MES dalam rantai pasok rumah sakit. Bentuknya antara lain penyediaan katering bergizi dan halal, linen serta konveksi medis, produk farmasi halal, hingga jasa logistik.

Selain rantai pasok, pengembangan ekonomi juga diarahkan melalui program inkubasi bisnis kesehatan berbasis ekosistem pesantren dan wakaf. Salah satu konsep yang disiapkan adalah kemitraan klinik satelit berbasis wakaf produktif yang dapat dikelola bersama komunitas lokal.

Melalui skema tersebut, masyarakat dan tenaga kesehatan lokal berpeluang terlibat dalam pengelolaan layanan kesehatan tingkat pertama. Aktivitas tersebut diharapkan sekaligus menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar fasilitas layanan.

RSI Sultan Agung juga menyiapkan gagasan koperasi tenaga kesehatan dan penguatan inklusi keuangan syariah. Sinergi dengan BPR Syariah dan lembaga keuangan syariah diarahkan untuk membuka akses pembiayaan modal kerja, investasi teknologi medis, serta layanan perlindungan kesehatan yang lebih terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Agus mengatakan berbagai program tersebut masih menjadi bagian dari pengembangan ekosistem kerja sama antara RSI Sultan Agung, YBWSA, dan MES Jawa Tengah. Kolaborasi diharapkan dapat mempertemukan kekuatan pelayanan kesehatan, pendidikan, bisnis, wakaf, dan keuangan syariah dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

“Melalui kolaborasi dengan MES Jateng, kami ingin memastikan bahwa ekosistem kesehatan tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga meningkatkan derajat ekonomi tenaga kesehatan dan masyarakat luas sesuai kaidah syariah,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....