Kurang Tidur Bisa Mempercepat Penuaan, Ini Penjelasan Ilmiahnya
- 14 Sep 2026 07:37 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Kurang tidur bukan hanya membuat tubuh terasa lelah dan wajah terlihat kurang segar keesokan harinya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kualitas dan durasi tidur juga berkaitan dengan kesehatan kulit serta proses penuaan biologis tubuh.
Tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan tubuh. Saat beristirahat, tubuh menjalankan berbagai proses perbaikan dan pemulihan sel. Karena itu, kebiasaan tidur yang buruk dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan perubahan pada fungsi tubuh yang berhubungan dengan proses penuaan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Clinical and Experimental Dermatology menemukan bahwa orang dengan kualitas tidur yang baik memiliki tanda penuaan intrinsik kulit yang lebih rendah dibandingkan kelompok dengan kualitas tidur buruk. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok yang tidur dengan baik memiliki pemulihan fungsi pelindung kulit yang lebih baik setelah mengalami gangguan.
Kondisi tersebut dapat terlihat dari perubahan pada kelembapan dan elastisitas kulit. Studi terhadap perempuan usia 40-an yang mengalami pembatasan tidur selama beberapa hari menemukan bahwa kurang tidur berkaitan dengan penurunan hidrasi kulit, elastisitas, kilau, serta memburuknya tampilan kerutan.
Penelitian lain terhadap perempuan sehat juga menunjukkan bahwa pembatasan tidur selama dua malam saja sudah dapat memengaruhi sejumlah parameter kulit. Studi yang diterbitkan dalam Clinical and Experimental Dermatology tersebut menemukan penurunan hidrasi dan peningkatan kehilangan air melalui kulit setelah periode tidur yang dibatasi.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Tinjauan ilmiah mengenai hubungan tidur dan penuaan biologis menjelaskan bahwa gangguan tidur dapat memengaruhi sistem kekebalan, metabolisme, proses perbaikan sel, serta meningkatkan sejumlah mekanisme yang berkaitan dengan kerusakan sel. Kondisi tersebut diduga dapat berkontribusi terhadap proses penuaan biologis.
Kurang tidur juga berkaitan dengan peningkatan stres fisiologis. Kajian mengenai kesehatan kulit menunjukkan bahwa kehilangan tidur dapat meningkatkan kortisol dan stres oksidatif serta mengganggu fungsi pelindung kulit. Kondisi ini berpotensi membuat kulit lebih mudah mengalami kekeringan dan gangguan lainnya.
Selain itu, tidur memiliki hubungan erat dengan pelepasan hormon pertumbuhan. Kajian fisiologi tidur menunjukkan bahwa peningkatan hormon pertumbuhan terutama berkaitan dengan fase tidur dalam atau slow-wave sleep. Hormon ini memiliki peran penting dalam berbagai proses pertumbuhan dan pemulihan jaringan tubuh.
Hubungan antara tidur dan penuaan juga terlihat pada tingkat biologis. Tinjauan yang dipublikasikan di Current Opinion in Endocrine and Metabolic Research menyebutkan bahwa gangguan tidur berhubungan dengan sejumlah proses yang menjadi bagian dari penuaan biologis, seperti akumulasi kerusakan sel, perubahan fungsi mitokondria, peradangan, pemendekan telomer, dan penuaan sel. Namun, peneliti menekankan bahwa sebagian besar bukti pada manusia masih bersifat korelasional sehingga hubungan sebab-akibat perlu terus diteliti.
Dengan demikian, kurang tidur memang tidak serta-merta membuat seseorang terlihat tua dalam semalam. Namun, kebiasaan tidur yang buruk dan berlangsung terus-menerus dapat berkaitan dengan menurunnya kesehatan kulit sekaligus sejumlah proses biologis yang berhubungan dengan penuaan.
Menjaga waktu dan kualitas tidur menjadi salah satu kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung kesehatan tubuh. Tidur yang cukup dan berkualitas memberi kesempatan bagi tubuh untuk menjalankan proses pemulihan secara optimal, sehingga kesehatan dan kebugaran dapat terjaga seiring bertambahnya usia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....