Polda Jateng Peduli CTEV, Ayah di Demak Ingin Putrinya Sembuh dari Kaki Pengkor
- 10 Sep 2026 11:35 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Harapan sederhana disampaikan Abdul Gafar, warga Desa Wonorejo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, saat membawa putrinya, Aida Fitriah, mengikuti Program Polda Jateng Peduli CTEV atau kaki pengkor. Abdul Gofar ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara Semarang, Kamis, 10 September 2026 seusai ditemui Kapolda Jateng Irjen Pol Ribut Hari Wibowo yang meninjau langsung pelaksanaan program.
Dari penuturan Gofar, Aida Fitriah yang baru berusia 17 bulan lahir dengan kondisi kaki pengkor. Sejak lahir, bentuk salah satu kakinya tidak seperti anak pada umumnya sehingga membuatnya berupaya mencari penanganan medis agar putrinya kelak dapat berjalan dan beraktivitas secara normal.

Hari ini menjadi salah satu tahapan penting bagi Aida. Untuk pertama kalinya, ia mendapatkan penanganan berupa pemasangan gips pada kakinya sebagai bagian dari proses koreksi kaki pengkor.
Gofar mengaku bersyukur dapat memperoleh kesempatan membawa putrinya mengikuti program yang digagas Polda Jawa Tengah tersebut. Ia berharap penanganan yang dijalani Aida dapat memberikan hasil terbaik.
“Alhamdulillah, semoga putri saya bisa seperti biasa, bisa jalan. Saya terima kasih kepada Mas Bhayangkara dan Mbak Naufidah yang sudah membantu,” ujarnya.
Informasi mengenai penanganan kaki pengkor tersebut diperoleh Gofar dari bidan di desanya. Dari informasi itu, ia kemudian mengetahui adanya program penanganan yang dapat membantu anak-anak dengan kondisi serupa.
Gofar pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia berharap Aida dapat menjalani seluruh tahapan penanganan dengan baik hingga nantinya mampu berjalan dan beraktivitas seperti anak-anak lainnya.

Dokter Spesialis Ortopedi Rumah Sakit Bhayangkara Semarang, dr. Sinung Bawono, menjelaskan CTEV merupakan kondisi kaki pengkor yang umumnya sudah terlihat sejak bayi lahir. Kondisi tersebut dapat terjadi pada satu kaki maupun kedua kaki.
Secara klinis, kaki penderita CTEV tampak mengarah ke dalam. Karena dapat diketahui sejak kelahiran, bayi dengan kondisi tersebut dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan dan rujukan ke dokter ortopedi untuk menentukan penanganan yang tepat.
“Penanganan CTEV ini kita lakukan sesegera mungkin, salah satunya dengan pemasangan gips. Keberhasilan penanganan sangat membutuhkan kerja sama orang tua. Tidak mungkin hanya anaknya yang datang, edukasi kepada orang tua sangat penting,” ucap dr. Sinung.
Menurutnya, apabila penanganan dilakukan dengan benar dan konsisten, tingkat keberhasilannya sangat tinggi. Penyebab CTEV sendiri hingga kini belum diketahui secara pasti dan umumnya merupakan kondisi kongenital atau bawaan sejak lahir.

Sementara itu, Kepala Bidang Dokkes Polda Jateng, Kombes Pol drg. Agung Hadi Wijanarko mengatakan Program Polda Jateng Peduli CTEV telah menjangkau puluhan anak di berbagai wilayah Jawa Tengah. Hingga saat ini, pihaknya telah memperoleh data sebanyak 87 pasien.
“Ada tujuh pasien untuk dilakukan tindakan pertama, kontrol pemasangan gips kedua. Ada juga pasien yang sebelumnya sudah mendapatkan penanganan tetapi mengalami relaps sehingga dilakukan penanganan kembali,” kata Agung.
Agung menjelaskan, keberhasilan penanganan CTEV sangat dipengaruhi usia pasien. Secara teori, penanganan memiliki tingkat keberhasilan maksimal hingga usia sekitar dua tahun, karena itu, semakin cepat anak mendapatkan penanganan setelah lahir, peluang keberhasilannya akan semakin besar.
Program Polda Jateng Peduli CTEV dilaksanakan di berbagai wilayah Jawa Tengah dengan melibatkan jajaran Polda dan Polres, serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan sejumlah pihak terkait. Program tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan penanganan kaki pengkor agar memiliki kesempatan tumbuh dan beraktivitas secara lebih optimal.
Bagi Abdul Gofar, program tersebut bukan sekadar layanan kesehatan gratis. Di balik pemasangan gips pada kaki Aida, tersimpan harapan seorang ayah agar putrinya dapat tumbuh tanpa keterbatasan dan kelak bisa berjalan seperti anak-anak lainnya.
“Semoga bisa sembuh. Normal seperti anak-anak yang lain,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....