Benarkah Vape Lebih Aman daripada Rokok Konvensional?
- 31 Jul 2026 15:57 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Vape atau rokok elektrik dinilai tidak lebih aman dibandingkan rokok konvensional dan sama-sama berpotensi membahayakan kesehatan paru.
- Dokter Spesialis Paru dr. Prihatin Iman Nugroho menegaskan bahwa berbagai penelitian menunjukkan penggunaan vape berpotensi memicu gangguan pada saluran pernapasan.
- Menjelang Hari Kanker Paru Sedunia yang diperingati 1 Agustus, diperlukan peningkatan kewaspadaan terhadap berbagai faktor risiko kanker paru termasuk penggunaan rokok elektrik.
RRI.CO.ID., Semarang - Menjelang Hari Kanker Paru Sedunia yang diperingati setiap 1 Agustus, menjadi pengingant untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai faktor risiko kanker paru, termasuk penggunaan rokok elektrik atau vape. Anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional dinilai tidak tepat karena keduanya sama-sama berpotensi membahayakan kesehatan paru.
Dokter Spesialis Paru (Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi) sekaligus Sekretaris IDI Cabang Kota Semarang, dr. Prihatin Iman Nugroho, M.Kes., Sp.P., mengatakan berbagai penelitian menunjukkan penggunaan vape tidak lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Menurutnya, sejumlah komponen dalam vape berpotensi memicu gangguan pada saluran pernapasan hingga meningkatkan risiko kanker paru.
"Secara proses pembakarannya itu adalah melibatkan atau ada beberapa komponen-komponen yang memang berpotensi atau memiliki resiko untuk memicu terjadinya kanker paru, karena di situ banyak elemen-elemen, material-material istilahnya kayak semacam logam yang yang nantinya bisa terserap di saluran pernapasan termasuk di dalam paru. Baik risiko untuk terjadinya kanker paru tidak lebih kecil dibandingkan penggunaan rokok-rokok konvensional," ujarnya kepada RRI Jum'at, 31 Juli 2026.
Ia menjelaskan, kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia, maupun di Indonesia. Risiko penyakit tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari riwayat keluarga, kebiasaan merokok, paparan polusi udara, hingga lingkungan kerja yang terpapar zat berbahaya.
Selain menghindari rokok dan vape, masyarakat juga diimbau lebih peduli terhadap gejala awal kanker paru yang kerap diabaikan. Batuk berkepanjangan, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
"Di antaranya yang pertama tentu saja ee menjalankan pola hidup sehat ya, hidup sehat itu tentu saja menghindari paparan-paparan bahan-bahan yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya kanker paru itu sendiri. Kemudian juga menjaga pola makan menghindari makanan-makanan instan secara terus-menerusn," tambahnya.
Ia menambhakan juga untuk melakukan aktivitas-aktivitas sehat yang lain, seperti olahraga, sehingga membantu dalam meningkatkan kemampuan daya tahan tubuh untuk mengeliminasi hal-hal yang dapat merusak tubuh. Tidak kalah penting ia jug amengingatkan pentinganya istirahat yang cukup.
Melalui peringatan Hari Kanker Paru Sedunia, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya pencegahan dan deteksi dini terhadap kanker paru. Kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat, serta menghindari paparan faktor risiko dinilai menjadi langkah penting dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tersebut.(imm)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....