Phapros Perkuat Dukungan Program Berantas TB Paru Milik Presiden Prabowo
- 20 Jun 2026 17:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Upaya pemberantasan Tuberkulosis (TB) di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, industri farmasi, tenaga kesehatan, akademisi hingga masyarakat didorong bergerak bersama untuk menekan angka kasus penyakit menular yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 2025 jumlah penderita TB di Indonesia diestimasi mencapai 1,09 juta kasus baru. Sementara angka kematian akibat penyakit tersebut mencapai sekitar 125 ribu jiwa.
Tingginya angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah kasus TB terbanyak kedua di dunia setelah India. Karena itu, pemberantasan TB menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam agenda pembangunan kesehatan nasional.
Sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita, upaya eliminasi TB dilakukan secara gotong royong atau "kroyokan". Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk industri farmasi nasional.
Di tengah tantangan tersebut, PT Phapros Tbk menegaskan komitmennya untuk mendukung keberhasilan program pemerintah melalui penyediaan obat anti tuberkulosis yang berkualitas dan berkelanjutan. Direktur Produksi PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih, mengatakan dukungan terhadap program eliminasi TB menjadi bagian dari komitmen perusahaan yang pada 21 Juni 2026 genap berusia 72 tahun.

"Presiden memiliki program Asta Cita, salah satunya pemberantasan TB dan stunting. Kami tentu sejalan dengan program pemerintah tersebut. Untuk TB, kami terus berupaya menyediakan obat sesuai standar yang ditetapkan," ujarnya ditemui Sabtu 20 Juni 2026 di Phapros Semarang.
Menurut Ida, produksi obat TB bukan perkara mudah karena harus memenuhi standar mutu yang ketat. Selain itu, keberlangsungan pasokan juga menjadi faktor penting mengingat pasien TB harus menjalani pengobatan secara rutin dan tidak boleh terputus.
"Jangan sampai terjadi kekosongan obat. Karena kalau pasien berhenti minum obat di tengah jalan, pengobatannya harus diulang lagi. Itu yang terus kami jaga," katanya.
Saat ini, Phapros menjadi salah satu pemasok utama obat TB nasional. Perusahaan tercatat berada di posisi kedua setelah Kimia Farma Group dalam penyediaan obat program TBC pemerintah.
"Setiap tahun, Phapros memproduksi sekitar 200 ribu dosis obat TBC yang didistribusikan sesuai kebutuhan yang dihitung oleh Kementerian Kesehatan. Selain untuk program pemerintah, obat tersebut juga dipasarkan ke rumah sakit swasta maupun dokter praktik," tambah Ida.
Di tengah tantangan industri farmasi yang menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, perusahaan tetap berupaya menjaga ketersediaan dan keterjangkauan produk.
Ida mengatakan kenaikan kurs juga berdampak langsung terhadap biaya bahan baku yang sebagian masih berasal dari impor. Namun perusahaan melakukan sejumlah strategi untuk menjaga efisiensi.
"Semua manufaktur terdampak kurs rupiah terhadap dolar, termasuk Phapros. Strategi kami melakukan renegosiasi dengan pemasok, membuat kontrak harga khusus, mencari alternatif supplier dan melakukan efisiensi produksi agar biaya tetap terkendali," kata Ida.

Disisi lain Ida menilai berbagai kebijakan pemerintah juga turut membantu keberlangsungan industri farmasi nasional. Dukungan tersebut antara lain penguatan penggunaan bahan baku lokal, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Hingga pengawasan mutu yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian dan kementerian terkait lainnya," terangnya.
Semakin banyak penggunaan bahan baku lokal akan memperkuat ketahanan industri farmasi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor. "TKDN menjadi insentif bagi industri. Di Phapros sudah banyak bahan yang beralih ke produk lokal. Tujuannya agar industri obat nasional bisa bertahan dan semakin kuat," ujarnya.
Memasuki usia ke-72 tahun, Phapros membawa semangat "Phapros itu sehat, sehat itu Phapros" slogan itu diharapkan menjawab tantangan industri dan tingginya beban penyakit TBC di Indonesia. Dengan cara perusahaan berupaya memastikan pasokan obat tetap tersedia sebagai bagian dari gerakan bersama menuju target eliminasi TBC nasional.
Sebab dalam perang melawan TBC, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh rumah sakit atau tenaga kesehatan semata. Melainkan oleh kolaborasi seluruh elemen bangsa, sebagai wujud nyata BUMN untuk Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....