Pengobatan Presisi dan Personal Sembuhkan Penyakit
- 07 Feb 2026 13:17 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Seamarang - Pengobatan Presisi dan Personal (Precision and Personalized Medicine) mulai menggeser paradigm satu obat untuk semua dalam dunia kedokteran. Pendekatan revolusioner yang menggabungkan kearifan sejarah Islam dan bioteknologi mutakhir dengan menggunakan sel tubuh pasien sendiri yang masih sehat untuk menyembuhkan penyakit.
Konsep yang terdengar futuristik ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang, membentang dari masa keemasan peradaban Islam hingga laboratorium riset modern di Indonesia. Di mana, semangat penggabungan antara nilai teologis, sejarah, dan sains modern ini diterjemahkan ke dalam langkah nyata melalui Unit Riset Everlasting.
| Baca juga: Manfaat Buah Mengkudu yang Jarang Orang Tahu |
Riset tersebut dimotori oleh Dr. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa yang berfokus pada pengembangan Autologous Haemotherapy dan Regenerative Medicine. Dalam pandangannya, setiap pasien dengan betapapun kronis penyakitnya, sebenarnya masih menyimpan cadangan sel yang baik dan potensial.
"Konsepnya adalah From Patient, For Patient. Kita tidak mencari donor dari luar yang berisiko ditolak tubuh. Kita melakukan panen (harvesting-red) pada sel-sel pasien sendiri yang masih sehat, memurnikannya dari kontaminasi penyakit, lalu mengembangkannya untuk menjadi pasukan penyembuh yang presisi," ungkap dr Agus dalam pesan tertulis, Sabtu 7 Februari 2026.
Melalui Unit Riset Everlasting, lanjut dia, pendekatan autologous (berasal dari tubuh sendiri) ini diteliti untuk menangani berbagai spektrum masalah kesehatan. Riset ini akan menjadi solusi masalah kesehatan yang selama ini menjadi tantangan berat dunia medis.
“Tantangan berat dunia medis seperti kasus Kongenital dan Trauma, Infeksi dan Kanker (Neoplasma), Gangguan Metabolit dan Hormonal serta Penyakit Degeneratif. Semua itu bisa diobati dengan pendekatan autologous,” katanya.
Ia mengungkapkan, riset-riset internasional kini semakin mengukuhkan bahwa terapi berbasis sel autologus memiliki tingkat keamanan paling tinggi karena meminimalisir risiko penolakan imun (rejection). Tubuh mengenali sel tersebut sebagai "kawan", bukan benda asing.
“Upaya melalui Unit Riset Everlasting ini bukan sekadar inovasi medis, melainkan sebuah lompatan peradaban. Ini adalah bukti bahwa ketika sains modern berjalan beriringan dengan pemahaman mendalam tentang fitrah manusia dan sejarah, kita dapat menemukan solusi kesehatan yang presisi, manusiawi, dan memberdayakan,” jelasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....