Kemendikdasmen Minta Praktik Berpikir Komputasional di Kudus Dapat Diperluas
- 21 Sep 2026 13:26 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong agar praktik penguatan berpikir komputasional yang telah diterapkan di Kabupaten Kudus diperluas ke daerah lain. Praktik tersebut dinilai sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional dalam penguatan literasi, numerasi, STEM, serta pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).
Dorongan tersebut disampaikan Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto dalam Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI di Kabupaten Kudus. Menurutnya, praktik pelatihan dan pendampingan yang telah berjalan di Kudus perlu dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak murid di daerah lain.
“Festival Berpikir Komputasional 2026 ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan kapasitas literasi, numerasi, dan STEM. Praktik baik pelatihan dan pendampingan, serta festival yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini perlu kita kembangkan dan tingkatkan skalanya ke tempat lain,” kata Gogot.
Penguatan berpikir komputasional di Kudus telah dilakukan sejak 2023, mulai dari jenjang PAUD hingga sekolah dasar. Program yang diinisiasi Djarum Foundation tersebut melibatkan guru, murid, dan orang tua melalui penguatan kompetensi guru serta penerapan pembelajaran mendalam.
Hingga kini, pelatihan telah menjangkau 46 PAUD/RA dan 22 SD/MI dengan melibatkan 1.111 guru serta 23.356 murid. Pembelajaran dilakukan menggunakan berbagai sarana, seperti kartu pembelajaran, permainan papan, teka-teki, dan aktivitas gerak yang dirancang untuk melatih kemampuan berpikir dan pemecahan masalah.
Perkembangan kemampuan murid juga diukur melalui tantangan BEBRAS, sebuah inisiatif internasional yang menggunakan soal-soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) untuk mengasah berpikir komputasional dan pemecahan masalah. Rata-rata skor murid dalam program tersebut meningkat dari 34,52 menjadi 88,34.
Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus Anggun Nugroho mengatakan, berpikir komputasional tidak hanya berkaitan dengan penggunaan komputer atau coding. Keterampilan tersebut melatih anak memecah persoalan, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah penyelesaian secara logis.
“Berpikir komputasional bukan sekadar tentang coding atau mengenal komputer, tetapi cara berpikir yang mengajarkan anak untuk memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah-langkah yang logis untuk menyelesaikan persoalan. Berkaitan dengan itu, kita tidak boleh berhenti membina anak-anak sejak dini sebab generasi yang terbiasa berpikir runtut dan logis sejak kecil, kelak akan menjadi generasi yang membawa kemajuan,” kata Anggun.
Penerapan berpikir komputasional juga dilakukan melalui aktivitas sederhana di sejumlah sekolah di Kudus. Di SD 3 Kalirejo, misalnya, murid diajak menyusun rute paling efisien untuk berangkat ke sekolah, sedangkan SD Muhammadiyah Birrul Walidain mengintegrasikannya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).
Sementara di SD 1 Barongan, guru menganalisis pola keterlambatan siswa untuk mencari kemungkinan penyebab dan solusi. Kegiatan tersebut sekaligus dipadukan dengan literasi fisik, mengingat survei keterampilan sosial emosional OECD di Kabupaten Kudus pada 2023 menemukan 55 persen murid berusia 15 tahun memiliki pola perilaku tidak sehat, seperti jarang berolahraga dan tidak rutin mengonsumsi buah serta sayur.
Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa mengatakan, penguatan berpikir komputasional diharapkan menjadi keterampilan fundamental yang membantu murid menghadapi berbagai tantangan. Program tersebut juga ditargetkan berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan murid sekaligus kesehatan dan kebahagiaan mereka.
“Kami melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri. Kami harap dalam 10-15 tahun mendatang, kemampuan murid seluruh sekolah di Kudus dalam asesmen PISA mencapai standar kompetensi setara dengan rata-rata OECD, sekaligus memiliki tingkat kebahagiaan dan kesehatan yang lebih tinggi daripada rata-rata,” ujarnya,
Djarum Foundation berkomitmen melanjutkan dan secara bertahap memperluas program penguatan berpikir komputasional ke jenjang pendidikan berikutnya. Kolaborasi dengan pemerintah, satuan pendidikan, guru, dan berbagai mitra diharapkan dapat membuat praktik baik tersebut menjangkau lebih banyak murid. (RK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....