Pakar Dorong Komunitas Siber Jateng Miliki Cyber Helpdesk dan Cyber Clinic
- 24 Agt 2026 14:33 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Pembentukan komunitas siber di Jawa Tengah dinilai perlu diarahkan pada penyediaan layanan yang dapat membantu masyarakat menghadapi berbagai persoalan keamanan digital. Pakar mendorong komunitas tersebut tidak hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga memiliki layanan cyber helpdesk dan cyber clinic.
Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Digital Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Dr. Muhammad Munsarif, S.Kom., M.Kom., Ph.D., mengatakan keberhasilan komunitas siber seharusnya diukur dari manfaat dan solusi yang diberikan kepada masyarakat. “Seberapa besar masyarakat itu benar-benar bergantung dan seberapa besar komunitas ini bisa memberikan solusi terhadap insiden-insiden,” katanya kepada RRI, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurut Munsarif, salah satu layanan yang dapat dibangun adalah cyber helpdesk. Layanan tersebut dapat menjadi tempat konsultasi awal bagi masyarakat yang mengalami persoalan keamanan digital, termasuk ketika menghadapi penipuan atau bentuk ancaman siber lainnya.
Selain cyber helpdesk, ia mengusulkan pengembangan cyber clinic yang dapat ditempatkan di berbagai lingkungan. Kampus, sekolah, desa hingga sektor UMKM dinilai dapat menjadi lokasi layanan tersebut agar akses masyarakat terhadap pendampingan keamanan digital semakin mudah.
Munsarif menilai keberadaan layanan langsung penting karena ancaman siber yang dihadapi masyarakat semakin beragam. Persoalan seperti social engineering, penipuan digital dan modus scam membutuhkan respons yang cepat serta mudah diakses masyarakat.
Ia juga mendorong Jawa Tengah memiliki sistem cyber warning yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan informasi mengenai modus penipuan atau scam yang sedang berkembang. “Penyebaran informasi, peringatan, kemudian hal yang berkaitan dengan modus-modus scam dan lain-lain bisa kita deteksi dan bisa sampai ke masyarakat,” katanya.
Menurutnya, komunitas siber Jawa Tengah idealnya dibangun melalui kolaborasi berbagai unsur. Pemerintah, akademisi, praktisi, komunitas teknologi informasi hingga generasi muda yang aktif di ruang digital dapat dilibatkan dalam ekosistem tersebut.
Kolaborasi lintas unsur diperlukan agar komunitas siber tidak hanya berfokus pada peningkatan literasi digital. Lebih dari itu, komunitas diharapkan mampu menjalankan fungsi pencegahan, deteksi dini, pendampingan korban hingga koordinasi ketika terjadi insiden keamanan siber.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....