Berdayakan UMKM Perempuan, Mahasiswa KKN Undip Petakan Sebaran Usaha di Desa Mojo
- 15 Agt 2026 09:31 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kendal – Peran perempuan dalam roda perekonomian Desa Mojo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, kini terpetakan lebih jelas. Tim II Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Universitas Diponegoro Tahun 2026 melakukan survei dan pemetaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) milik perempuan di desa tersebut selama empat hari, mulai 30 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja multidisiplin bertajuk "Pelatihan Kewirausahaan Berperspektif Gender Bagi Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Desa Mojo Menuju Kemandirian Ekonomi". Hal ini sejalan dengan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 (Kesetaraan Gender) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Dari hasil survei dan pengamatan langsung, tercatat sebanyak 26 UMKM di Desa Mojo yang dimiliki oleh perempuan. Berdasarkan jenis usahanya, sektor makanan dan minuman mendominasi dengan porsi 65,4 persen (17 usaha), diikuti sektor perdagangan sebesar 26,9 persen (10 usaha), sementara sektor jasa dan hasil kebun masing-masing menyumbang 3,8 persen (1 usaha).
"Kami berharap hasil survei dan pemetaan ini bisa memberi manfaat nyata bagi pengembangan Desa Mojo, khususnya untuk mendukung roda perekonomian UMKM di sini," ujar tim mahasiswa KKN-R Undip, Anindy pada Jumat, 14 Agustus 2026. Selain Anindy, tim mahasiswa KKN yang melakukan survei dan pemetaan UMKM perempuan di Desa Mojo ialah Devi, dan Qonita Fauziah.
Dari sisi persebaran wilayah, kata dia, UMKM milik perempuan paling banyak ditemukan di RW 06 dengan 6 unit usaha, disusul RW 03 dan RW 07 dengan masing-masing 5 unit usaha. Sementara RW 01, RW 02, dan RW 05 tercatat memiliki 3 unit usaha, dan RW 04 hanya 1 unit usaha.
Dari sisi umur usaha, ia menjelaskan, sebanyak 9 UMKM telah berjalan kurang dari 5 tahun, 8 UMKM telah berjalan 5–10 tahun, dan 9 UMKM lainnya sudah bertahan lebih dari 10 tahun. Data ini menunjukkan bahwa usaha milik perempuan di Desa Mojo cukup merata dari sisi usia bisnis, mulai dari yang baru dirintis hingga yang sudah lama berjalan.
Ia menjelaskan, dari aspek layanan pembayaran, sebanyak 15 UMKM (58 persen) masih mengandalkan transaksi tunai, sementara 11 UMKM (42 persen) sudah menerapkan sistem pembayaran tunai dan non-tunai sekaligus. Artinya, 11 dari 26 UMKM milik perempuan di Desa Mojo sudah mulai beradaptasi dengan metode pembayaran digital.
Menurut Devi, selain poster infografis, tim mahasiswa juga menghasilkan luaran berupa Peta Sebaran UMKM Desa Mojo yang memuat lokasi persis puluhan usaha di wilayah tersebut. Peta itu lengkap dengan kategori jenis usaha seperti makanan/kuliner, toko kelontong/sembako, jasa dan pelayanan, teknologi dan elektronik, hingga usaha triplek veneer.
Ia mengatakan, peta ini juga mencantumkan titik-titik fasilitas umum seperti masjid, gedung pendidikan, kantor desa, jembatan, jalan, hingga jalur kereta api. Harapannya, persebaran UMKM dapat dilihat dalam konteks tata ruang wilayah Desa Mojo secara utuh.
Sementara itu, Qonita menuturkan, seluruh data hasil pemetaan ini dirangkum ke dalam poster infografis berjudul "Persebaran UMKM Milik Perempuan Desa Mojo" serta peta sebaran UMKM, yang kemudian diserahkan kepada perangkat dan warga Desa Mojo. Data lengkap dalam bentuk tabel juga dapat diakses publik melalui tautan bit.ly/UMKMPerempuan_Mojo.
Melalui pemetaan ini, pihaknya berharap, data persebaran UMKM perempuan Desa Mojo dapat menjadi acuan bagi pemerintah desa maupun program PEKKA dalam merancang pelatihan kewirausahaan yang lebih tepat sasaran, sekaligus mendorong kemandirian ekonomi perempuan di Desa Mojo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....