Gali Potensi Lokal, Guru Besar IPB Telusuri Dukuh Jetak Batang
- 05 Agt 2026 21:00 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Prof. Muladno, Guru Besar Peternakan IPB, mengunjungi Dukuh Jetak, Batang dalam program Dosen Pulang Kampung 2026 untuk memberikan motivasi pemberdayaan masyarakat.
- Penekanan pada pendekatan partisipatif di mana masyarakat ditempatkan sebagai subjek aktif, bukan obyek dalam program pembangunan.
- Upaya mengajak warga menggali dan mengembangkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan berkelanjutan di tingkat desa.
RRI.CO.ID, Batang - Guru Besar Peternakan IPB Prof. Muladno berupaya memberikan motivasi kepada warga Dukuh Jetak, Kecamatan Selopajang Timur, Blado dalam membangun daerah dengan memanfaatkan potensi lokal. Di tengah kesibukannya dalam program Dosen Pulang Kampung 2026, terus mengajak warga setempat menggali potensi untuk dikembangkan dan dikelola, demi peningkatan kesejahteraan.
"Perubahan selalu dimulai dari bawah. Bisa saya pastikan, tidak ada program yang berhasil selama menjadikan masyarakat sebagai obyek". Hal ini disampaikan oleh Prof. Muladno, Guru Besar Peternakan IPB di sela-sela terjun ke lapangan di Dukuh Jetak, Kecamatan Selopajang Timur, Blado Batang kepada tim pendamping PCNU Selasa, 4 agustus 2026.
Prof. Muladno mengatakan , semangat berbagi ilmu adalah keutamaan yang harus dijaga. " Salah satunya PCNU Batang sangat beruntung bisa ngangsu kaweruh (menimba ilmu), secara langsung demi meningkatkan kesejahteraan umat," ujarnya.
Saat ini mari mencoba untuk melihat, program apa yang berhasil. " Yang dimaksud dalam hal ini adalah program pembangunan desa, baik dari pemerintah maupun non pemerintah yang menjadikan masyarakat sebagai obyek," katanya.
Sejauh pengamatannya justru masyarakatlah yang harusnya dijadikan sebagai subyek. Sebab, merekalah yang nanti akan melakukan program itu di lapangan, dan yang lebih paham konteks di desa masing-masing.
"Warga dirangsang agar bisa bermimpi tentang perubahan, mampu merencanakannya dan mewujudkan mimpinya itu secara bersama-sama. Sebab juga tidak ada perubahan terjadi berkelanjutan kecuali bersifat komunal," ujarnya.
Ia menyarankan kepada Tim Fasilitator dari PCNU jika ingin melakukan pendampingan jangan terlalu mengintervensi lebih dalam. "Biarkan kreatifitas itu tumbuh dari akar, dari masyarakat itu sendiri," ungkapnya.
Pernyataan ini sudah diuji selama puluhan tahun. "Sejak tahun 2012, saya menggagas Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) dengan berkeliling ke kampung-kampung," tegasnya.
Ia berupaya untuk memberikan ilmu yang dimiliki supaya masyarakat berubah pola pikirnya. Dari peternak kecil tradisional, menjadi mandiri dan bermartabat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....