Fenomena "Bediding", Suhu Dingin dan Angin Kencang di Jawa Tengah

  • 26 Jul 2026 15:50 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ISD, Semarang- Belakangan ini masyarakat Jawa Tengah merasakan udara yang lebih dingin disertai tiupan angin yang cukup kencang. Kondisi ini merupakan fenomena alam yang wajar dan rutin terjadi pada puncak musim kemarau setiap tahunnya.

Penyebab utamanya adalah angin monsun yang membawa massa udara dingin dari benua Australia yang sedang mengalami musim dingin. Udara tersebut bergerak menuju wilayah Indonesia dan membawa sifat yang kering serta bersuhu rendah.

Langit yang umumnya cerah dengan sedikit awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi terlepas dengan cepat ke angkasa. Hal ini menyebabkan penurunan suhu yang cukup terasa terutama pada saat malam hingga menjelang pagi hari.

Perbedaan tekanan udara yang cukup nyata antara wilayah daratan dan lautan juga membuat laju angin menjadi lebih cepat. Kelembapan udara yang rendah pada musim kemarau turut membuat rasa dingin terasa lebih menusuk ke kulit.

Kawasan dataran tinggi seperti Bandungan, Dieng, dan Tawangmangu menjadi wilayah yang paling merasakan dampak dari perubahan suhu ini. Sementara itu, daerah pesisir dan lahan terbuka merasakan tiupan angin yang lebih bebas dan kencang.

Fenomena ini dalam istilah lokal sering disebut sebagai "bediding" yang merupakan ciri khas pergantian waktu menuju musim penghujan. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga bulan Agustus atau awal September sebelum cuaca berangsur berubah.

Masyarakat disarankan untuk menggunakan pakaian yang hangat guna menjaga kesehatan tubuh dari perubahan suhu yang cukup tajam. Kita perlu memahami pola alam ini agar dapat beradaptasi dengan baik dan tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....