Dies Natalis ke-45, Universitas PGRI Semarang Buka Program Doktor Pendidikan

  • 23 Jul 2026 14:16 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Universitas PGRI Semarang, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) membuka Program Doktoral (S3) untuk program studi Pendidikan. Program ini menjadi upaya peningkatan mutu layanan dan kualitas pembelajaran pendidikan terbaik bagi generasi masa depan bangsa.

Rektor UPGRIS, Dr Sapto Budoyo MH mengatakan pembukaan prodi Doktoral Pendidikan untuk memberikan layanan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kampus UPGRIS di bawah naungan PGRI yang memiliki misi mempertahankan NKRI dengan terus melaksanakan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Tujuannya bagaimana agar UPGRIS memberikan makna dampak termasuk dari sisi pendidikan. Akses pendidikan mutu harus disiapkan oleh perguruan tinggi," ucapnya di sela acara Dies Natalis Ke-45 dengan tema "UPGRIS Memberi Makna" di Balairung kampus tersebut, Kamis 23 Juli 2026.

Rektor menegaskan, momen Dies Natalis Ke-45 menjadi momentum UPGRIS terus membangun dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Pada tahun akademik 2026/2027 penerimaan mahasiswa baru UPGRIS mengalami peningkatan yang signifikan.

"Pada tahun akademik 2025/2026 jumlah mahasiswa baru program sarjana maupun pascasarjana meningkat dari 3.667 menjadi 4.335 mahasiswa baru pada tahun ini. Untuk menjaga mutu, UPGRIS juga melakukan seleksi yang menurut hemat kami agak ketat dengan pendaftarnya dibatasi," ucapnya .

Sapto mengungkapkan, pada tahun ini UPGRIS juga mendapat kepercayaan dari Kemendiktisaintek untuk memerima mahasiswa jalur afirmasi beasiswa STEM Industri Kreatif (Beasiswa LPDP). Beasiswa tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa program Pascasarjana prodi PBSI, PBI dan Pendidikan Dasar.

"UPGRIS pada tahun ini menerima mahasiswa beasiswa LPDP dan ini baru. Untuk kuota masih kami lakukan kajian guna peningkatan mutu, itu kami utamakan," katanya.

Wakil Menteri Diktisaintek, Prof Dr Fauzan MPd mengatakan transformasi yang dilakukan UPGRIS sangat bagus dengan capaian akreditasi Unggul. Namun, capaian tersebut perlu didukung agar perguruan tinggi berperan untuk memberikan solusi permasalahan ditengah masyarakat.

"Bangsa ini butuh penyelesaian dari berbagai persoalan, mulai dari pengangguran, kemudian kesehatan, energi, dan lain sebagainya, termasuk keadilan. Ini perguruan tinggi yang notabene adalah kumpulannya orang-orang hebat, kumpulannya SDM unggul, tentu tidak boleh hanya bersifat eksklusif, tetapi harus inklusif," katanya.

Menurutnya, bentuk inklusivitas perguruan tinggi harus mencurahkan potensi yang dimiliki melalui peran dosen dan mahasiswa dengan risetnya. Sehingga riset dari dosen dan mahasiswa bisa menjadi gerakan untuk mensupport dan menyelesaikan problem yang ada di daerah.

"Bangsa kita ini butuh berpikir dan bertindak yang memiliki akurasi dan sustainability. Maka, jawabannya sebenarnya adalah riset dari perguruan tinggi," ungkapnya.

Ia menekankan agar riset perguruan tinggi menggandeng pemerintah dan dunia usaha atau industr, termasuk dengan media. "Perguruan tinggi ini tidak boleh merasa besar di dalam institusinya sendiri, harus bisa memberikan kontribusi atau problem solver terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....