Teater Gema UPGRIS Juara 2 Tangkai Monolog Peksimida Jateng 2026

  • 18 Jul 2026 08:44 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Teater Gema Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menyabet juara 2 tangkai lomba monolog dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah 2026. Monolog berjudul Pidato karya Putu Fajar Arcana berdurasi 10 menit itu diperankan Eng Muchakam di bawah arahan sutradara Shendi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Banyumas pada Rabu 15 Juli 2026.

Pembina Teater Gema Ahmad Ripai menyampaikan rasa syukur atas capaian yang diraih para mahasiswa. Prestasi itu merupakan buah dari proses latihan yang disiplin, kerja sama tim, dan komitmen seluruh anggota dalam mempersiapkan penampilan terbaik.

“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas berkesenian serta melahirkan karya-karya teater yang kreatif dan kompetitif,” kata Ripai, Jumat 17 Juli 2026. Dia berharap keberhasilan tersebut dapat memacu semangat mahasiswa UPGRIS untuk terus berprestasi, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga dalam pengembangan seni dan budaya.

Ripai menyatakan Teater Gema akan terus melakukan pembinaan dan penguatan kemampuan para anggotanya agar mampu bersaing pada berbagai kompetisi seni. Baik di tingkat regional maupun nasional.

“Ajang seperti Peksimida menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, kemampuan berekspresi, sekaligus memperluas jejaring antarseniman muda,” tutur doktor dengan desertasi Budaya Lokal Sumber Inovasi Pembelajaran Era Digital tersebut.

Dalam tangkai lomba monolog Peksimida 2026 ini, juara 1 diraih oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, juara dua disabet Universitas Semarang (USM). Adapun, jumlah peserta terdiri dari 33 kampus di Jawa Tengah.

Dewan juri pada ajang bergengsi dua tahunan ini terdiri dari Budi Riswandi alias Bode, Hanindawan Sutikno dan Budi Sadewo. Budi Sadewo menekankan pada sisi kualitas keaktoran.

Menurutnya, penilaian seni pertunjukan bukan perkara mudah karena melibatkan aspek rasa yang kemudian harus diterjemahkan menjadi angka. “Menilai rasa menjadi angka itu sesuatu beban buat kami. Namun, kami berusaha seobjektif mungkin karena kadang rasa itu bisa juga dilihat menjadi nominal,” ujarnya.

Selama dua hari penjurian, dia menilai sebagian besar peserta masih perlu memperkuat dasar-dasar latihan keaktoran. Baginya, tubuh merupakan instrumen utama yang dimiliki seorang aktor sehingga harus terus diasah.

“Dasar-dasar latihan keaktoran itu menjadi penting karena seorang aktor tidak punya alat apa-apa kecuali badan,” katanya.

Dia menjelaskan latihan harus mencakup elastisitas tubuh, keluwesan berpikir, serta kepekaan pancaindra, pikiran, batin, dan naluri. Bekal tersebut menjadi fondasi bagi aktor yang ingin berkembang secara profesional.

“Untuk yang menang maupun yang belum menang, percayalah bahwa menang dan kalah adalah irama kematian. Imbang berimbang adalah irama kehidupan,” tuturnya.

Juri lainnya, Budi Riswandi menyoroti kesadaran aktor terhadap naskah yang dimainkan. Menurutnya, adaptasi, alih wahana, maupun pendekatan intermedialitas dapat dilakukan, tetapi pemahaman terhadap teks tidak boleh diabaikan.

“Seorang aktor itu yang paling penting sadar terhadap teks. Mau diadaptasi, mau diintermedialitas, mau alih wahana itu bebas, tetapi kesadaran teks itu menjadi penting,” ujarnya.

Dia mencontohkan perlunya memahami konteks zaman dalam naskah, termasuk istilah yang digunakan, agar karakter dapat dibangun secara logis dan sesuai latar cerita.

Selain itu, pemilihan naskah juga harus mempertimbangkan kesesuaian karakter, termasuk jenis kelamin tokoh yang dimainkan, kecuali pada naskah yang memang memberikan ruang interpretasi berbeda.

Budi juga mengingatkan pentingnya membangun logika kausalitas, ruang, waktu, serta kondisi psikologis tokoh sehingga karakter yang diperankan memiliki kedalaman.

“Apakah tokohnya mengalami gangguan jiwa, depresi, atau anxiety, itu harus dibedakan. Tanpa itu, saya kira kita masih akan berjalan di tempat,” katanya.

Meski demikian, dia mengapresiasi seluruh peserta yang dinilai telah menunjukkan perkembangan positif. “Namun, 33 peserta semuanya sudah sangat berhasil. Salut untuk teman-teman semua,” ujarnya.

Sementara itu, Hanindawan Sutikno menyinggung penggarapan set atau tata ruang dalam sebuah monolog. Ia mencatat terdapat beberapa pendekatan yang digunakan peserta, mulai dari set yang hanya memenuhi kebutuhan dasar, set multifungsi, set yang mampu membangun suasana, hingga set yang belum memiliki konsep yang jelas.

Menurutnya, tata ruang tidak hanya menghadirkan unsur fisik, tetapi juga harus mampu membangun ruang imajiner yang mendukung permainan aktor. “Ruang itu untuk sebuah pertunjukan sangat penting,” katanya.

Hanindawan menilai aktor dan sutradara harus memiliki kejelian dalam menentukan kepada siapa tokoh monolog berbicara, apakah kepada penonton, tokoh lain di dalam cerita, lingkungan tertentu, atau kepada dirinya sendiri.

“Ruang aktor atau sutradara itu harus detail. Tokoh itu berbicara kepada siapa? Ini penting,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....