Dosen USM, Riset Tingkat Lokal Punya Peluang Besar Tembus Jurnal Internasional

  • 09 Jul 2026 08:00 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang Penelitian ilmiah yang mengangkat topik di tingkat lokal dinilai tetap memiliki peluang besar untuk menembus jurnal internasional bereputasi. Kuncinya terletak pada kemampuan peneliti dalam mengemas dan menaruh riset tersebut ke dalam sudut pandang global. Hal itu disampaikan oleh Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM), Dr. Yulianto Budi Setiawan, dalam kegiatan Academic Writing pada Rabu 8 Juli 2026

Kegiatan akademik bertema "Penguatan Kapasitas Akademik Menuju Publikasi pada Jurnal Bereputasi" ini diinisiasi oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) USM. Forum tersebut bertujuan memacu produktivitas dosen dan peneliti lokal agar tidak ragu mengeksplorasi isu-isu di sekitar mereka untuk dibawa ke ranah internasional.

Yulianto membagikan strategi penting bagi para akademisi agar riset mereka bisa dilirik oleh pengelola jurnal global. "Sekalipun kita melakukan riset di tingkat lokal, tetapi bukan berarti hanya masuk di jurnal-jurnal lokal, namun bisa juga menembus jurnal internasional. Namun untuk menembus jurnal internasional tersebut perlu mengambil sudut pandang internasional, misalnya dengan melihat perbandingan dengan negara-negara lain," jelasnya.

Workshop ini juga menghadirkan narasumber kompeten lainnya, yaitu Dr. Dewi Kartika Sari yang merupakan dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Dalam paparannya mengenai Strategi Publikasi di Jurnal Nasional dan Internasional Terindeks, ia menegaskan pentingnya kontekstualisasi riset lokal agar diolah secara mendalam hingga mampu menjawab persoalan publik yang bersifat global.

Dewi yang juga aktif sebagai reviewer di sejumlah jurnal internasional menyarankan peneliti untuk melirik tren riset dunia saat ini. "Saat ini ada banyak riset penelitian tentang riset-riset global south. Kita bisa menambahkan aspek-aspek ini, sehingga penelitian yang dilakukan akan memiliki relevansi di dunia global," ujarnya

Sesi diskusi berlangsung interaktif ketika para peserta mulai menanyakan tren penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam menyusun artikel ilmiah. Saat ini, sejumlah penerbit jurnal internasional memang mulai memperbolehkan penggunaan AI. Kendati demikian, terdapat batasan ketat dan kewajiban menyertakan pernyataan tertulis mengenai penggunaan teknologi tersebut.

Menanggapi hal itu, Yulianto memberikan batasan tegas mengenai posisi teknologi dalam dunia akademik agar marwah tulisan ilmiah tetap terjaga. "AI misalnya bisa digunakan untuk persiapan, hanya membantu saja dan bukan sebagai penulis. Selain itu harus ada pernyataan tertulis tentang penggunaan AI tersebut," terang Yulianto.

Hal senada diperkuat oleh Dewi Kartika Sari yang meminta para akademisi untuk tetap bijak dan bertanggung jawab terhadap keaslian naskah. Penerapan teknologi AI diakui sangat membantu dalam mempercepat proses pra-penulisan atau penyusunan kerangka awal, tetapi orisinalitas pemikiran sepenuhnya harus tetap bersumber dari peneliti. "AI bukan sebagai penulis pada artikel tersebut," tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....