Tim Dosen USM Sulap Filter Sederhana Jadi Solusi Air Bersih untuk Warga Kalikayen

  • 26 Jun 2026 15:59 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Tim dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Semarang (USM) mengembangkan teknologi penyaringan air sederhana sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas air bersih yang digunakan masyarakat. Teknologi tersebut diterapkan melalui penelitian di Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, dengan memanfaatkan sistem filtrasi yang mudah dibuat dan berbiaya relatif murah.

Ketua tim peneliti, Sri Wanto, S.T., M.T., mengatakan penelitian menggunakan metode gravity fed filtering system, yakni sistem penyaringan yang memanfaatkan gaya gravitasi untuk mengalirkan air melalui beberapa lapisan media filter tanpa menggunakan pompa maupun tekanan tambahan. Metode tersebut dipilih karena sederhana, mudah diterapkan, dan dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.

"Pada sistem ini, air dialirkan secara perlahan dari bagian atas menuju bagian bawah melalui lapisan media penyaring. Selama proses tersebut, partikel kotoran dan beberapa zat pencemar dapat tertahan di dalam media filter sehingga kualitas air menjadi lebih baik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 26 Juni 2026.

Penelitian diawali dengan kajian literatur untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kualitas air bersih. Tim kemudian menyusun instrumen penelitian, membuat alat penyaring, mengambil sampel air, melakukan pengujian laboratorium, hingga menganalisis hasil yang diperoleh.

Alat penyaring dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh masyarakat. Sampel air diuji di Laboratorium Kesehatan Kota Semarang untuk membandingkan kualitas air sebelum dan sesudah melalui proses filtrasi.

Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan kualitas air pada sejumlah parameter. "Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem penyaringan sederhana mampu meningkatkan kualitas air secara nyata," ungkap Sri Wanto.

Ia menjelaskan, hasil pengujian menunjukkan kadar amoniak total turun dari 0,78 mg/l menjadi 0,17 mg/l, sedangkan kadar padatan zat tersuspensi berkurang dari 50 mg/l menjadi 3 mg/l. Nilai pH air juga tetap berada pada kisaran netral, yakni dari 7,60 menjadi 7,46.

Ke depan, tim peneliti berencana mengembangkan teknologi tersebut agar semakin efektif. Selain itu, juga dapat diterapkan di lebih banyak daerah yang masih menghadapi persoalan kualitas air bersih.

Kepala Desa Kalikayen, Sugiono, mengapresiasi penelitian tersebut. ''Kami merasa sangat terbantu dengan adanya penelitian ini, hasilnya bisa langsung dirasakan masyarakat dan memberikan dampak positif bagi warga Desa Kalikayen,'' ungkapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....