Fenomena Lipstick Effect, Tetap Belanja di tengah Kondisi Ekonomi Sulit
- 19 Jun 2026 12:43 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Fenomena lipstick effect kembali ramai dibahas di tengah dinamika ekonomi yang tidak menentu. Istilah ini menggambarkan kecenderungan masyarakat tetap melakukan pembelian kecil untuk menjaga suasana hati meski daya beli terbatas.
Mahasiswa FISIP Universitas Diponegoro, Dwi Anjani Apriliana, menjelaskan, lipstick effect merupakan bentuk perilaku konsumen yang mencari kenyamanan emosional. “Fenomena ini terjadi ketika orang tetap membeli hal-hal kecil yang bisa memberi rasa senang di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil,” ujarnya dalam program siaran SPADA PRO2 FM RRI Semarang, Jumat, 19 Juni 2026.
Duta GenRe Kota Semarang ini menyebut, media sosial berperan besar dalam memperkuat fenomena tersebut, terutama di kalangan Gen Z. Paparan tren digital dan gaya hidup membuat konsumsi bukan hanya soal kebutuhan, tetapi juga identitas sosial.
Menurutnya, konsep self reward yang banyak dilakukan anak muda saat ini masih termasuk dalam bagian dari Lipstick Effect. “Self reward itu wajar, tapi harus tetap dikendalikan supaya tidak berubah menjadi kebiasaan konsumtif yang berlebihan,” jelasnya.
Dari perspektif perilaku konsumen, seseorang cenderung membeli barang non-esensial untuk mendapatkan rasa nyaman dan kontrol emosional. Hal ini menjadi cara sederhana untuk mengurangi stres di tengah tekanan ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Ia juga menilai fenomena ini dapat berdampak positif bagi pelaku usaha, terutama sektor ritel, UMKM, dan industri kreatif. Namun, dampak tersebut tetap perlu diimbangi dengan literasi keuangan agar konsumen tidak terjebak pola konsumsi tidak sehat.
Menurutnya, batas antara self reward yang sehat dan konsumtif berlebihan terletak pada kemampuan mengatur prioritas keuangan. Jika pengeluaran mulai mengganggu kebutuhan utama, maka perilaku tersebut sudah perlu diwaspadai.
Generasi muda, lanjutnya, perlu memahami perbedaan antara kebutuhan, keinginan, dan dorongan sesaat akibat tren atau FOMO. “Penting untuk sadar apakah kita benar-benar butuh atau hanya ikut tren supaya tidak terjebak pengeluaran impulsif,” katanya.
Dwi Anjani menyarankan strategi pengelolaan keuangan sederhana seperti membuat anggaran dan membatasi pengeluaran impulsif. Dengan begitu, anak muda tetap bisa menikmati hidup tanpa mengorbankan stabilitas finansial jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....