Gawai Jadi Tantangan, Sekolah Berjuang Bangun Budaya Literasi Anak di Era Digital
- 18 Jun 2026 09:48 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Tingginya penggunaan gawai di kalangan anak-anak menjadi tantangan terbesar dalam upaya menumbuhkan budaya literasi di era digital. Kondisi tersebut membuat sekolah harus terus berinovasi agar minat baca siswa tetap berkembang di tengah derasnya arus hiburan digital.
Pendidik SDN Lamper Kidul 02 Semarang, Ika, mengatakan literasi perlu ditanamkan sejak usia dini karena menjadi fondasi utama dalam proses belajar anak. Menurutnya, literasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menyimak serta memahami informasi.
Kemampuan tersebut berperan penting dalam membentuk pola pikir kritis dan keterampilan komunikasi anak. Oleh karena itu, pembiasaan literasi perlu dilakukan secara konsisten sejak usia sekolah dasar.
"Anak yang terbiasa dengan literasi sejak kecil akan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Lebih siap menghadapi berbagai tantangan pembelajaran," katanya saat diwawancarai Pro 1 RRI Semarang, Kamis, 18 Juni 2026.
Untuk menumbuhkan budaya literasi, sekolah menerapkan sejumlah program pembiasaan membaca. Salah satunya adalah kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai yang dilanjutkan dengan menceritakan kembali isi bacaan.
Selain itu, setiap kelas dilengkapi pojok baca yang berisi berbagai koleksi buku. Sekolah juga rutin mengadakan kunjungan ke perpustakaan, kegiatan mendongeng, membaca puisi, dan bercerita sebagai bagian dari pengembangan minat dan bakat siswa.
Ika menjelaskan sekolah juga mulai mengembangkan buletin sekolah sebagai sarana meningkatkan kemampuan literasi. Saat ini pengelolaan masih dilakukan oleh guru, namun ke depan siswa diharapkan dapat terlibat secara aktif dalam proses pembuatannya.
Meski berbagai program telah dijalankan, tantangan literasi masih cukup besar. Salah satu penyebabnya adalah tingginya penggunaan gawai yang membuat anak lebih tertarik pada hiburan digital dibandingkan membaca buku.
"Anak-anak sekarang penuh dengan hiburan digital sehingga minat membaca buku menjadi rendah. Dukungan literasi dari rumah juga masih kurang karena banyak orang tua yang lebih sering memberikan gawai daripada membiasakan anak membaca," katanya.
Menurut Ika, peran orang tua sangat penting dalam membangun budaya literasi di rumah. Orang tua diharapkan menyediakan bahan bacaan yang sesuai dan meluangkan waktu untuk mendampingi anak membaca, misalnya sebelum tidur.
Di sisi lain, sekolah juga memanfaatkan teknologi untuk mendukung perkembangan literasi siswa. Salah satunya dengan menyediakan akses buku digital melalui barcode yang dapat dipindai oleh siswa maupun orang tua dari rumah.
Melalui inovasi tersebut, anak-anak tetap dapat mengakses berbagai bahan bacaan sesuai perkembangan zaman. Ika berharap literasi di Indonesia terus berkembang sehingga mampu melahirkan generasi yang kritis, mampu menganalisis informasi dengan baik, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
"Dengan literasi yang baik, anak-anak akan lebih kritis dalam berpikir. Mampu menganalisis informasi dengan baik, dan siap menghadapi berbagai tantangan pendidikan di masa depan," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....