Universitas Stekom Gelar Industri Ramah Inklusi, Libatkan 30 Perusahaan
- 10 Jun 2026 00:14 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Universitas Sains dan Teknologi Komputer (Stekom) Semarang menggelar Industri Ramah Lingkungan di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN), jl Elang Raya, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Selasa, 9 Juni 2026. Kegiatan tersebut melibatkan 30 perusahaan ramah inklusi yang sudah mempekerjakan difabel dalam dunia kerja.
"Kami mengadakan syukuran Iduladha di SLBN, namun ada yang spesial kami mengundang sekitar 30 industri peduli pada difabel. Melalui kegiatan ini, kami ingin menciptakan Jawa Tengah jadi industri ramah inklusi," kata Rektor Stekom Semarang Dr Joseph Teguh Santoso MKom di sela-sela kegiatan.
Pihaknya mempertemukan industri dengan anak-anak difebal yang berjumlah lebih dari 600 orang. Momen bersama ini diharapkan bisa tumbuh rasa emosional, kepedulian, cinta kasih sayang, dan hal positif lainnya, supaya lebih banyak industri yang ramah inklusi.
Joseph ingin industri memiliki komitmen untuk melibatkan difabel pada dunia kerja, karena mereka sebenarnya punya potensi yang bisa dimanfaatkan dengan baik. Pelaku usaha sebenarnya bukan tidak mau merekrut difabel jadi pekerjanya, namun karena mereka tidak tahu kecocokan pekerjaan mereka di perusahaan.
"Perusahaan itu bukan tidak punya uang atau tidak mau merekrut, namun belum mengetahui kemampuan apa yang dimiliki anak-anak disabilitas. Jadi bukan membuka lapangan pekerjaan dulu kepada difabel, tapi setelah tahu kemampuannya baru dibukakan lowongan kerja itu, misal anak ini bisa jadi operator, tukang sampah, atau kebersihan toilet," ungkapnya.

Ia mengatakan, pertemuan langsung antara dunia industri dan penyandang disabilitas ini hal penting untuk menghapus stigma yang selama ini jadi penghalang dalam dunia kerja. Setiap difabel ini punya kemampuan tersendiri yang bisa jadi nilai positif bagi perusahaan, apabila yang bersangkutan itu ditempatkan pada posisi yang pas.
"Seperti penyandang tuna rungu, ia bisa bekerja di lingkungan kerja yang tingkat kebisingannya tinggi. Misal jadi pengawas pekerja, mereka bisa lebih fokus melakukan pengawasan," ungkap founder toploker.com.
Kegiatan industri ramah lingkungan yang diinisiasi Universitas Stekom, didukung SLBN dan toploker.com. Di hadapan perwakilan perusahaan dalam acara itu ditampilkan demonstrasi kemampuan difabel dalam melakukan pekerjaan, seperti jadi pekerja kantor dan tenaga kebersihan.
Joseph menuturkan, industri ramah inklusi ini juga digelar tahun 2025, namun hanya melibatkan sebanyak 20 perusahaan. Pada tahun ini, perusahaan yang dilibatkan lebih banyak, seperti halnya BCA, Bank Mandiri, PT Pan Brothers Tbk, Marimas, Derma 9, PT SKN, Permata Bank, Graha Wisata, dan Kidzilla.
Sementara itu, Kepala SLBN Semarang Sri Sugiarti SPd MPd menuturkan, kegiatan ini turut melibatkan kepala sekolah SLB dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Hal ini penting agar dapat memperluas jejaring dan peluang kerja bagi lulusan sekolah luar biasa.
"Kami berharap, kegiatan ini bisa jadi inspirasi bagi sekolah luar biasa lainnya di Provinsi Jawa Tengah untuk membangun kolaborasi dengan dunia industri," ungkapnya. SLBN Semarang ini memiliki 512 peserta didik, mulai jenjang TK hingga SMA yang tersebar di dua kampus, salah satunya berlokasi di Ngaliyan, Semarang.
Menurut dia, SLBN ini menjalin kerja sama dengan Stekom yang membuka akses pendidikan tinggi bagi lulusan difabel lewat program beasiswa. "Ada beberapa lulusan yang meraih golden ticket atau beasiswa penuh untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja," jelasnya.
Perwakilan Human Resource Management PT Pan Brothers Tbk Boyolali, Tina menuturkan, perusahaannya telah menjalankan program pelatihan dan pemberdayaan tenaga kerja difabel secara rutin selama enam tahun terakhir.
"Peserta pelatihan terlebih dahulu mendapatkan pembekalan keterampilan, sebelum menjalani asesmen dan rekrutmen sebagai karyawan perusahaan. Program ini dilakukan melalui kerja sama dengan Forum Komunikasi Disabilitas Boyolali, Dinas Sosial, dan berbagai mitra lainnya," katanya.
Ia mengemukakan, difabel banyak yang mengikuti pelatihan menjahit untuk memenuhi kebutuhan industri garmen. Mereka direkrut untuk ditempatkan sebagai operator sewing atau menjahit sesuai kebutuhan industri garmen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....