Pelecehan Tak Kenal Gender, Mahasiswa Universitas Semarang Beri Edukasi ke Siswa

  • 22 Mei 2026 16:16 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Pelecehan seksual tidak mengenal gender dan dapat dialami siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki. Untuk itu, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) memberikan edukasi kepada siswa SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang mengenai pentingnya memahami bentuk-bentuk pelecehan seksual tanpa bias gender.

Kegiatan bertema “Kesadaran dan Edukasi Pelecehan Seksual Tanpa Bias Gender” tersebut digelar pada Kamis, 21 Mei 2026 dengan mengusung tagline “Siapa pun bisa jadi korban, siapa pun bisa jadi pelaku.” Kampanye edukatif itu diikuti siswa-siswi kelas 8A.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga batasan dalam pergaulan, mengenali tindakan pelecehan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai. Edukasi juga diarahkan agar siswa lebih berani bersikap ketika mengalami maupun menyaksikan tindakan yang tidak pantas.

Kepala SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang, Ah. Solikul Hadi mengapresiasi mahasiswa USM yang telah menginisiasi kampanye edukatif di lingkungan sekolah. Menurutnya, pemahaman terkait pelecehan seksual perlu diberikan sejak dini kepada siswa.

“Kami berharap, melalui kegiatan itu, siswa dapat lebih memahami bahwa pelecehan dapat terjadi kepada siapa saja. Penting untuk saling menghormati, menjaga batasan, dan berani melapor apabila mengalami atau melihat tindakan yang tidak baik,” ujarnya.

Ketua Pelaksana kegiatan, Anggie Putri Melani mengatakan kampanye tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi siswa untuk lebih peka terhadap tindakan yang dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman. “Peserta juga diajak untuk belajar secara santai, terbuka, tidak menghakimi agar lebih berani bersikap benar dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Dosen pengampu Mata Kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas USM, Dr. Yulianto Budi Setiawan mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dilakukan mahasiswa. “Kami mengajak siswa untuk lebih peduli terhadap keamanan diri dan lingkungan sekitar, serta berani melapor apabila mengalami atau menyaksikan tindakan yang mengarah pada pelecehan,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut, dua pemateri, yakni Aditya Alfarizki dan Muhammad Falevi Firgi Saputra menyampaikan berbagai bentuk pelecehan yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dikenalkan bahwa pelecehan tidak hanya berupa sentuhan fisik, tetapi juga candaan, komentar terhadap tubuh, catcalling, pengiriman pesan tidak senonoh, hingga penyebaran foto tanpa izin.

Pada sesi berikutnya, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya keberanian melapor dan cara melindungi diri dari tindakan pelecehan. Salah satunya melalui pengenalan aplikasi LIBAS yang memiliki fitur bantuan darurat, layanan hotline 110, serta fasilitas pelaporan awal secara cepat dan aman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....