Jaga Teman Jaga Diri, Mahasiswa USM Bekali Pelajar Cara Lawan Pelecehan Seksual

  • 18 Mei 2026 15:08 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) menggelar edukasi pencegahan kekerasan seksual bagi siswa SMA Institut Indonesia, Senin, 18 Mei 2026. Mengusung tema “Jaga Teman, Jaga Diri Stop Pelecehan Sekarang”, kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran kolektif sekaligus menciptakan ruang aman bagi generasi muda.

Edukasi tersebut hadir sebagai respons terhadap tingginya kerentanan remaja terhadap berbagai bentuk pelecehan seksual, baik di lingkungan sekolah, ruang publik, maupun platform digital. Mahasiswa USM mengemas kegiatan dengan pendekatan santai dan interaktif agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima oleh kalangan pelajar.

Ketua Panitia, Imelda Anggi Puspita mengatakan kegiatan tersebut dirancang menggunakan pendekatan teman sebaya (peer-to-peer approach) untuk membekali siswa memahami risiko kekerasan seksual sejak dini. Menurutnya, remaja perlu memiliki keberanian mengenali tanda bahaya sekaligus melindungi diri dan teman di sekitarnya.

“Berdasarkan data Komnas Perempuan, ribuan kasus kekerasan seksual menimpa remaja setiap tahunnya, di mana mayoritas pelaku justru merupakan orang terdekat atau kenalan melalui media sosial. Melalui pendekatan teman sebaya (peer-to-peer approach), program ini hadir untuk membekali para siswa agar mampu mengidentifikasi bahaya dini, menjaga otonomi tubuh, serta menumbuhkan keberanian untuk bertindak,'' katanya.

Untuk memastikan pesan edukasi tersampaikan secara efektif kepada Generasi Z, kegiatan dikemas melalui video pendek, sesi ice breaking, serta ruang diskusi interaktif. Para siswa juga diajak memahami batasan perilaku wajar, mengenali bentuk pelecehan sehari-hari, hingga pentingnya menjaga otonomi diri.

Dalam paparannya, pemateri Dinda mengajak siswa menjadi saksi aktif (bystander intervention) yang berani bersuara apabila melihat tindakan tidak nyaman dialami teman sebaya. Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun budaya saling menjaga di lingkungan sekolah.

Selain edukasi karakter, siswa juga mendapatkan pembekalan teknis melalui pengenalan aplikasi Libas (Polisi Hebat Semarang). Materi disampaikan oleh Bripda Pol. Falevi untuk membantu siswa memahami mekanisme pelaporan cepat saat menghadapi situasi darurat.

"Kami ingin adik-adik di SMA Institut Indonesia tidak merasa bingung atau takut lagi ketika menghadapi situasi darurat. Melalui materi cara kerja dan penggunaan aplikasi 'Libas' ini, kami membuka ruang pelaporan yang cepat dan responsif,” katanya.

Ia mengajak para pelajar agar berani melapor dan berani melindungi. “Teknologi ini hadir untuk memastikan kalian semua memiliki perlindungan instan di mana pun berada,'' jelasnya.

Sementara itu, Dosen Mata Kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas USM, Dr. Yuliyanto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si berharap kombinasi edukasi karakter dan pengenalan aplikasi pelaporan dapat memberikan perlindungan menyeluruh bagi siswa. Menurutnya, pembelajaran di kelas perlu diwujudkan melalui aksi nyata yang berdampak langsung di masyarakat.

''Sosialisasi ini merupakan bentuk implementasi nyata dari teori komunikasi jender yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah. Kami berharap gerakan ini mampu menumbuhkan kepekaan sosial di kalangan remaja untuk saling melindungi, memutus rantai pelecehan, dan menciptakan lingkungan belajar yang setara serta bebas dari rasa takut,'' ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....