Keluarga Jadi Benteng Mental Anak di Era Digital

  • 15 Mei 2026 21:15 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Peringatan Hari Keluarga Internasional diperingati setiap 15 Mei tiap tahunnya. Momentum ini mengingatkan publik tentang pentingnya peran keluarga dalam menjaga kesehatan mental anak.

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) Selvina Pianda Puaraka menegaskan rumah merupakan sekolah pertama bagi anak-anak di masa tumbuh kembang. “Keluarga tangguh akan melahirkan generasi muda kuat secara emosional dan sosial,” ujarnya di SPADA PRO2 FM RRI Semarang, Jumat, 15 Mei 2026.

Selvina menambahkan anak zaman sekarang rentan menghadapi tantangan digital yang cepat dan kompleks dalam kehidupan sehari-hari mereka. Potensi mereka sangat besar bila pendampingan keluarga dilakukan secara bijak dan konsisten setiap hari.

Interaksi sederhana seperti makan bersama atau menanyakan kabar anak setiap hari sangat membantu memvalidasi perasaan mereka. “Anak yang merasa didengar biasanya tumbuh percaya diri dan memiliki ketahanan mental lebih baik,” katanya.

Bagi anak dari keluarga broken home, pola pengasuhan berbeda sangat diperlukan demi mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa percaya diri. Selvina menekankan, “Dukungan keluarga, saudara, atau teman sebaya menjadi sistem penting untuk perkembangan emosional mereka.”

Ia juga mengingatkan orang tua agar peka terhadap tanda anak yang haus perhatian. “Anak yang haus perhatian sering usil, mencari sensasi dengan teman, bahkan sengaja tidak mengerjakan PR agar mendapat teguran dan orang tua dipanggil ke sekolah,” ungkapnya

Menurutnya,Peran Guru BK kini sudah bergeser dari sekadar “polisi sekolah” menjadi mitra keluarga. “Dulu BK identik dengan hukuman. Sekarang layanan kami juga fokus pada konsultasi dengan orang tua mengenai perkembangan anak di sekolah,” jelas Selvina.

Tren ini juga membuat banyak orang tua lebih terbuka dan kooperatif, terutama setelah maraknya kasus kekerasan di sekolah. Orang tua kini aktif menanyakan perkembangan anak dan lebih peduli terhadap kesejahteraan mereka.

Sebagai praktik sederhana, Selvina menyarankan agar orang tua meluangkan setidaknya lima belas menit setiap hari untuk hadir sepenuhnya bersama anak tanpa gangguan ponsel. Kehadiran utuh tanpa penghakiman, menurutnya, membuat rumah menjadi tempat yang aman bagi jiwa anak.

Meski Guru BK membimbing sesuai kurikulum dan regulasi pendidikan yang berlaku di sekolah, peran utama pembentukan karakter tetap berada pada keluarga. Sebab, keluarga merupakan madrasah pertama bagi setiap anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....