Tambah Satu Guru Besar, Prof Mimi Mulyani Guru Besar Asli Kelima Untidar Magelang

  • 05 Mei 2026 16:07 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Universitas Negeri Tidar (Untidar) Magelang
  • guru besar kelima asli Untidar Magelang
  • kemampuan literasi peserta didik Indonesia

RRI.CO.ID, Kota Magelang - Universitas Negeri Tidar (Untidar) Magelang menambah satu guru besar , setelah pengukuhan Prof Mimi Mulyani yang dilakukan Rektor Untidar Prof Sugiyarto di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr HR Suparsono, Selasa, 4 Mei 2026. Mimi merupakan guru besar kelima asli Untidar Magelang dan secara keseluruhan ia merupakan guru besar kesepuluh.

“Prof Mimi merupakan guru besar kelima yang asli Untidar. Namun jika dihitung keseluruhan fmerupakan guru besar kesepuluh yang ada di Untidar ini,” kata Rektor Untidar Magelang Sugiyarto,

Pihaknya sedang menata manajemen karir para dosen dan tenaga pendidik. Sehingga pihaknya selalu mendorong dan memacu mereka agar bersekolah di jenjang yang lebih tinggi.

Selain itu, Untidar Magelang menargetkan dalam jangka satu tahun bisa mencetak empat orang guru besar. Target tersebut menjadi bagian dari dorongan untuk mempercepat peningkatan kualitas akademik di Untidar Magelang.

“Saat ini kami sedang menata tentang manajemen karir dari dosen dan tenaga pendidik. Diawali dengan memacu untuk sekolah dan juga kita menyediakan beasiswa,” ujarnya.

Pihakya terus mendorong agar para dosen dan tenaga pendidik untuk terus berkarya dan memunculkan beragam karya ilmiah. Dengan memberikan dukungan terkait pendanaan penelitian.

“Harapan kami, tahun depan, bisa melahirkan empat guru besar dalam satu tahun. Semoga ke depan semakin banyak guru besar yang lahir dari Universitas Tidar, sehingga mampu memperkuat kualitas akademik, riset, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, pada pidato pengukuhannya berjudul “Revitalisasi Budaya Literasi melalui Pembelajaran Menulis Berbasis Kearifan Lokal dan Nilai Spiritualitas”, Prof. Mimi Mulyani menyoroti kondisi literasi di Indonesia yang masih memerlukan perhatian serius. Yakni, kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih berada di bawah standar ideal yakni di peringkat ke enam se-Asia Tenggara. Peringkat tersebut masih di bawah Singapura, Vietnam Brunei Darussalam dan Malaysia.

“Skor rata-rata kemampuan membaca peserta didik di Indonesia, yaitu 359 poin. Ini menunjukkan kemampuan mereka lebih rendah dibandingkan dengan Singapura (543 poin), Vietnam (462 poin), Brunei Darussalam, dan Malaysia.,” jelasnya.

Ia menegaskan, pembelajaran menulis perlu direvitalisasi melalui pendekatan yang lebih kontekstual, dengan mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai spiritualitas dalam proses pembelajaran. Pendekatan tersebut diyakini mampu tidak hanya meningkatkan kemampuan menulis, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat identitas budaya, serta menumbuhkan kesadaran spiritual peserta didik. (wied)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....