Polines Perkuat Kolaborasi Industri Melalui Vocatech Edufair 2026

  • 05 Mei 2026 15:18 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Politeknik Negeri Semarang (Polines) menggelar Vocatech Edufair 2026 di Gedung Serba Guna Polines, Selasa, 5 Mei 2026. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 1500 pelajar SMA/SMK/MA dari 140 sekolah se-Provinsi Jawa Tengah serta diikuti 18 mitra strategis.

Direktur Polines Dr Garup Lambang Garo ST MT mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan para siswa dengan Polines. Selain itu, juga memperkuat Link and Match antara pendidikan tinggi, industri dan pemerintah.

“Kita sudah pupuk terus dan sering bekerjasama dengan industri. Kami juga berterima kasih kepada industri di Jawa Tengah, Jakarta dan Jawa Barat, karena mahasiswa kami sudah magang dan sudah direkrut banyak industri,” kata Garup.

Meski demikian, pihaknya terus berupaya meningkatkan dan membuka peluang kepada industri untuk bekerjasama membangun Teaching Factory (TEFA) atau model pembelajaran yang menggabungkan antara teori dan praktek berstandar industri. Ia menerangkan, Polines terus menyesuaikan dengan kebutuhan industri, salah satunya adalah pemanfaatan artificial intelligence (AI).

“Di Polines beberapa dosen dan mahasiswa sudah riset dengan berdasarkan AI. Banyak riset-riset yang menggunakan IoT (Internet of things) dalam pengabdian masyarakat dalam bidang kesehatan, peternakan, pertanian dan juga bidang konstruksi, jadi kami terus menggali juga mendorong dosen dan mahasiswa untuk meriset tentang AI,” jelasnya.

Garup mengungkapkan, saat ini Polines juga tengah berfokus pada hilirisasi hasil riset, agar bisa sampai masuk pada industri. Polines kini memiliki 27 program studi dengan jumlah mahasiswa sekitar 9.000 mahasiswa, 390 dosen dan 205 tenaga pendidik.

Vocatech Edufair 2026 juga diapresiasi oleh Kepala Dinas Pendidikan provinsi Jawa Tengah, Sadimin yang mampu mengolaborasikan antara pendidikan tinggi, pemerintah dan industri. Ia menyampaikan, jumlah siswa di Jawa Tengah mulai dari SMA/SMK dan SLB, sebanyak 1.319.566 siswa, yang memiliki potensi untuk ikut memajukan Jawa Tengah.

Sadimin mengungkapkan, SMA sederajat khususnya SMK, terus melakukan link and match dengan dunia industri termasuk dengan pendidikan tinggi. “Harapannya kompetensi anak-anak kita menjadi lebih tinggi baik hard skill maupun soft skill-nya, agar siap bekerja, siap melanjutkan, siap berwirausaha ” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Azis menyampaikan, tantangan ketenagakerjaan saat ini dipengaruhi beberapa hal. Di antaranya dinamika ekonomi-politik global, digitalisasi hingga green economy.

“Serapan tenaga kerja di Jawa Tengah cukup tinggi, terkonfirmasi dari tingkat pengangguran terbuka yang semakin tahun semakin menurun. Mayoritas investasi di Jawa Tengah adalah padat karya,” ucapnya.

Site Director PT Paragon Technology & Innovation, Sony Hidajat menjelaskan, pendidikan tidak ada yang instan, sehingga perlu waktu, ruang pembelajaran dari siswa yang cukup. “Makanya kita perlu kerjasama antara industri dan juga pendidikan tinggi sehingga bisa sentuh langsung dari kurikulumnya,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....