UMK Kini Punya Lima Guru Besar
- 13 Apr 2026 16:49 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus - Universitas Muria Kudus (UMK) kini miliki lima guru besar, setelah Prof. Dr. Drs. Muh. Syafei, M.Pd dikukuhkan sebagai Guru Besar di Auditorium UMK. Pada kesempatan itu hadir seluruh civitas akademika UMK dan Asisten Bidang Pemerintahan Adi Sadhono Murwanto mewakili Bupati Kudus Samani Intakoris yang berhalangan hadir karena mengikuti acara di Jakarta.
Hadir pula Kepala LLDIKTI Wilayah VI (Jawa Tengah) Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd,. Rektor UMK Prof.Dr.Ir Darsono, M.Si, berharap, lima guru besar di UMK ini untuk capital UMK sebagai agreditasi unggul kedepan dari segi mutu, kualitas akademisi dan tata kelola yang lebih baik.
Oleh karena itu, pihaknya mempunyai road map hingga tahun 2029, UMK harus memiliki 50 guru besar bergelar Profesor. Setidaknya per tahun kita bisa memiliki 5 – 10 guru besar baru.
"Tiga tahun lalu kami mendirikan UPT Layanan Pengembangan Karir bagi para dosen. Sehingga ada unit khusus yang menangani ajuan jabatan fungsional. Dampaknya cukup baik adanya re pertumbuhan bagi para dosen yang belum berjabatan fungsional. Sekarang ini hasilnya cukup baik,” ujar Rektor UMK, Senin, 13 April 2026.
Sementara itu dalam desertasinya Prof. Dr. Drs. Muh Syafei, M.Pd mengangkat tema From Pen To Artificial Intelligence: TrnasformingWriting & Language Learning For A New generation. Yang berawal dari pemikirannya bagaimana pembelajar Indonesia dapat berkembang di era digital melalui pembelajaran yang efektif, penggunaan teknologi yang bijak dan beretika serta paparan bahasa sejak dini yang bermakna.
“Ada tiga yang saya tawarkan yakni Cognitive Writing Model yang dapat memperkuat deep thinking and learning yang human centered. Lalu Artificial Intelligence yakni dengan memanfaatkan rezeki zaman dalam bentuk kemajuan teknologi. Serta Early Language Framework dengan memanfaatkan potensi belajar masa emas anak usia dini,” tuturnya.
Dijelaskan, dalam pemakaian artificial intelligence (AI) dalam academic writing fenomena yang terjadi adalah AI mengubah cara menulis dari alat bantu ke penghasil teks. Kemudian tantangan utama adalah bukan apakah digunakan tetapi bagaimana diposisikan. Kemudian pula mesin kini dapat menulis bahkan lebih cepat dari manusia.
“Tetapi ketika mesin berpikir untuk kita, dimana makna itu lahir? Lalu kehadiran AI adalah antara euforia teknologi dan kecemasan etis,” tandasnya. (RK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....