Warga Binaan Lapas Semarang Produksi Paranet, Ekspor ke Pasar Yunani

  • 01 Okt 2026 14:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui kegiatan produksi kerajinan tangan berbahan dasar sabut kelapa. Produk yang dihasilkan berupa paranet atau jaring peneduh yang dibuat melalui proses penganyaman secara manual.

Tidak sekadar menjadi kegiatan untuk mengisi waktu selama menjalani masa hukuman, keterampilan tersebut juga membuka peluang bagi warga binaan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi. Bahkan, hasil kerajinan mereka kini telah menembus pasar internasional dan diekspor hingga ke Yunani.

Program pemberdayaan ini terlaksana melalui kerja sama Lapas Kelas I Semarang dengan PT Chewy Louis. Sebelum memproduksi paranet, Lapas Semarang juga telah mengembangkan produk kerajinan berbahan sabut kelapa berupa mainan anjing yang turut dipasarkan ke luar negeri.

Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, mengatakan, pihaknya memiliki potensi besar dalam mengembangkan berbagai produk manufaktur melalui program pembinaan kemandirian. Dengan jumlah penghuni yang mencapai sekitar 1.300 orang, Lapas Semarang memiliki sumber daya manusia yang dapat diberdayakan melalui berbagai kegiatan produktif.

Menurutnya, warga binaan perlu mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan selama menjalani masa pidana. Dengan demikian, mereka tidak hanya menghabiskan waktu di dalam kamar, tetapi juga memiliki aktivitas yang bermanfaat dan berpotensi menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.

"Memang kami (Lapas) punya keunggulan pada tenaga. Saat ini saja penghuninya mencapai 1.300. Mereka kami berikan keterampilan, sehingga tidak hanya duduk diam saja menunggu hukuman berakhir," ujar Ahmad Tohari, Kamis 1 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, produksi paranet berbahan sabut kelapa tersebut telah berjalan dan menunjukkan hasil positif. Hingga saat ini, Lapas Semarang telah menerima dua kali pengiriman bahan baku untuk kemudian diolah menjadi produk siap ekspor.

Dari bahan baku yang diterima, warga binaan berhasil menyelesaikan sebanyak 80 unit paranet. Produk tersebut selanjutnya dikirim ke Yunani melalui kerja sama dengan mitra usaha.

"Hingga saat ini kami telah menerima kiriman bahan sebanyak dua kali. Dari bahan tersebut telah diselesaikan 80 pcs yang kemudian dikirim ke Yunani," katanya.

Di balik keberhasilan menembus pasar internasional, terdapat cerita warga binaan yang memperoleh pengalaman dan keterampilan baru. Salah satunya Bayu Firman, warga binaan yang kini bekerja di unit produksi kerajinan berbahan sabut kelapa.

Sebelum terlibat dalam kegiatan tersebut, Bayu bekerja di unit kebersihan Lapas. Namun, setelah mendapatkan kesempatan untuk bergabung dalam kegiatan produksi sabut kelapa, ia mulai mempelajari teknik pengolahan dan penganyaman dari instruktur yang membimbingnya.

Menurut Bayu, proses pembuatan paranet relatif mudah dipelajari dan tidak membutuhkan keahlian khusus. Ia mengaku hanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk memahami teknik dasar hingga akhirnya mampu mengerjakannya sendiri.

"Sebelumnya saya bekerja di unit kebersihan, tugasnya ya bersih-bersih. Kemudian saya diberi tugas di sabut kelapa. Awalnya hanya melihat instruktur, lalu beberapa jam saya coba, ya langsung bisa. Sama sekali tidak ada kesulitan," ungkap Bayu.

Bagi Bayu, mengikuti kegiatan kerja di dalam Lapas bukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan. Aktivitas tersebut juga menjadi cara untuk mengisi waktu selama menjalani masa pidana sekaligus menghindari kejenuhan.

Ia mengaku lebih memilih bekerja dan melakukan kegiatan produktif daripada hanya berdiam diri di kamar. Selain memberikan kesibukan, pekerjaan tersebut juga membantunya mengalihkan pikiran dari hal-hal negatif.

"Daripada di bawah (kamar), kan mending cari pekerjaan yang bermanfaat. Bisa mengalihkan pikiran negatif. Tiap bulan kita dikasih premi (upah), dari hasil kerja kita sendiri dibagi rata, bisa buat jajan," tutur Bayu.

Melalui kegiatan tersebut, Bayu tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga mendapatkan penghasilan dari hasil kerjanya. Premi yang diterima setiap bulan menjadi salah satu bentuk penghargaan atas keterlibatan warga binaan dalam proses produksi.

Bagi warga binaan, kesempatan bekerja dan memperoleh keterampilan baru menjadi bagian penting dalam menjalani masa pembinaan. Kegiatan produktif seperti ini juga memberikan ruang bagi mereka untuk membangun kebiasaan positif, meningkatkan rasa percaya diri, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa hukuman.

Sementara bagi Lapas Semarang, pengembangan produk kerajinan sabut kelapa menjadi salah satu upaya untuk memperluas kegiatan pembinaan yang memiliki nilai ekonomi. Kerja sama dengan pihak swasta juga membuka peluang pemasaran produk warga binaan hingga ke pasar internasional.

Keberhasilan mengekspor paranet ke Yunani diharapkan dapat menjadi motivasi untuk terus mengembangkan potensi warga binaan. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, mereka tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperoleh keterampilan yang dapat dimanfaatkan ketika kembali ke tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....