Kenaikan Dolar Hantam UMKM Konveksi di Pekalongan, Harga Semua Bahan Baku Naik

  • 22 Mei 2026 15:12 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Dolar Menggila, UMKM Konveksi Pekalongan Tercekik: Harga Semua Bahan Baku Naik

RRI.CO.ID, Pekalongan — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah pedesaan Kabupaten Pekalongan. Kenaikan harga bahan baku produksi akibat penguatan dolar membuat pelaku usaha konveksi semakin tertekan di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

Salah satu pelaku usaha konveksi pakaian wanita di Desa Getas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, M. David Ainul Ridho mengatakan, dampak pelemahan rupiah tetap dirasakan melalui lonjakan harga bahan baku produksi. "Saya usaha di desa, produksi di desa, pekerjanya warga desa semua, tapi harga kain, plastik, kancing, semuanya naik akibat dolar naik,” ujarnya, Jumat, 22 Mei 2026.

David menjelaskan dampak penguatan dolar memang tidak dirasakan secara langsung melalui transaksi mata uang asing. Namun, efek berantainya terasa nyata pada kenaikan harga bahan baku seperti kain, plastik kemasan, hingga aksesori produksi yang mengikuti dinamika pasar global.

Sebagai pelaku usaha fesyen wanita, David mengaku sangat bergantung pada bahan tekstil dan perlengkapan produksi yang sebagian besar dipengaruhi fluktuasi nilai tukar. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, pelaku usaha juga dihadapkan pada turunnya daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Situasi itu membuat pelaku UMKM berada dalam posisi sulit karena kenaikan harga jual produk berisiko membuat konsumen beralih.

“Sekarang tantangannya berat, hari ini dolar tembus Rp17.717 akibatnya harga bahan kain naik, biaya produksi naik, tapi daya beli masyarakat justru turun. Mau menaikkan harga terlalu tinggi, takut pembeli lari,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan perajin konveksi di Desa Tegadowo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Sarifa. Ia mengatakan meningkatnya biaya produksi turut berdampak pada menurunnya pesanan daster batik dalam beberapa waktu terakhir.

"Biaya produksi naik, akhirnya pesanan turun. Para pembeli memilih bertahan sembari menunggu harga bahan baku turun," ujarnya.

Pelaku UMKM berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi dan menekan gejolak harga bahan baku agar usaha kecil tetap mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi global. Menurut mereka, dukungan kebijakan yang tepat menjadi kunci agar usaha konveksi di tingkat desa tidak semakin terpuruk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....