Pemanfaatan Teknologi Digital Dorong Daya Saing UMKM Semarang

  • 17 Apr 2026 09:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Pemanfaatan teknologi digital terus menjadi kunci bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam meningkatkan daya saing sekaligus memperluas jangkauan pasar. Hal ini disampaikan Ketua Forum Komunikasi Koperasi dan UMKM Semarang (Fokkus), Aik Solikati, saat dikonfirmasi, Jumat 17 April 2026.

Aik menjelaskan, pendampingan digitalisasi UMKM telah dilakukan sejak sekitar tiga tahun lalu, bertepatan dengan masa pandemi COVID-19. Saat itu, aktivitas masyarakat yang banyak dilakukan dari rumah mendorong percepatan adaptasi teknologi, termasuk di kalangan pelaku UMKM.

“Pendampingan kami awali sejak masa pandemi. Kami menggandeng CSR, berkoordinasi dengan dinas terkait, serta menghadirkan mahasiswa magang untuk membantu pelaku UMKM memahami penggunaan media digital,” ujarnya.

Program pendampingan tersebut dilakukan secara intensif selama tiga hingga enam bulan. Fokus utamanya adalah mengenalkan pelaku UMKM pada pemanfaatan platform digital seperti marketplace dan media sosial, termasuk TikTok dan Shopee.

Menurut Aik, hasilnya cukup beragam. Sebagian pelaku UMKM berhasil memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan penjualan dan pendapatan.

Mereka juga sudah mampu melakukan siaran langsung (live) untuk promosi produk. Meski demikian, tidak sedikit pula yang belum konsisten dalam menjalankan usaha berbasis digital.

“Namanya mendampingi banyak orang, hasilnya pasti berbeda. Ada yang berkembang, ada juga yang hanya mencoba sebentar, tapi banyak yang sudah merasakan manfaat, seperti peningkatan income dan kemampuan berjualan secara online,” jelasnya.

Meski demikian, sejumlah kendala masih dihadapi, terutama terkait keterbatasan literasi digital. Mayoritas pelaku UMKM yang berusia di atas 40 tahun masih mengalami kesulitan dalam mengoperasikan perangkat dan aplikasi digital.

“Kendala utama adalah gaptek, mereka perlu pendampingan yang sabar dan bertahap. Selain itu, ada juga masalah perangkat yang tidak mendukung,” ucap Aik.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pihaknya turut memanfaatkan fasilitas WiFi gratis di Pasar Johar yang disediakan pemerintah. Dengan demikian, pelaku UMKM dapat belajar dan berlatih secara bersama-sama.

Dari sisi jenis usaha, UMKM di sektor fashion dinilai lebih mampu bertahan dan berkembang dalam ekosistem digital dibandingkan sektor kuliner. Produk fashion seperti batik memiliki daya tahan lebih lama sehingga lebih aman untuk distribusi antar kota.

“Sektor fashion lebih kuat karena produknya tahan lama, kalau makanan, risikonya lebih tinggi. Meski begitu, kami juga sudah mencoba menggandeng layanan seperti ShopeeFood, walaupun hasilnya kembali ke kesiapan masing-masing pelaku,” ujarnya.

Saat ini, Fokkus juga tengah menjaring sekitar 70 pelaku UMKM untuk mengikuti program pendampingan lanjutan bersama kementerian, khususnya dalam penguatan digitalisasi dan teknologi informasi. Aik berharap, melalui pendampingan yang berkelanjutan, semakin banyak pelaku UMKM mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, sehingga dapat meningkatkan daya saing di pasar yang semakin kompetitif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....