Keamanan Aset Kripto Tak Cukup Andalkan Teknologi, Kesadaran Pengguna Jadi Kunci
- 01 Jul 2026 19:38 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Keamanan aset kripto kini tidak lagi cukup mengandalkan kecanggihan teknologi semata. Meningkatnya penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI), seperti deepfake dan voice cloning, membuat kesadaran pengguna menjadi faktor utama dalam mencegah kejahatan siber.
Pelaku kejahatan siber kini lebih banyak menyasar manusia dibandingkan mencoba menembus sistem keamanan digital. Modus yang digunakan pun semakin beragam, mulai dari social engineering, phishing, deepfake, hingga penyamaran sebagai layanan pelanggan resmi.
Laporan NordStellar mencatat pembahasan layanan Deepfake-as-a-Service (DFaaS) di forum dark web meningkat sekitar 39 persen sepanjang Januari hingga Mei 2026. Sementara itu, teknologi AI voice cloning kini mampu meniru suara seseorang hanya dari sampel audio berdurasi sekitar 10 detik sehingga membuat berbagai modus penipuan semakin sulit dikenali.
Chief Information Security Officer (CISO) Indodax, Ledy, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah pola ancaman terhadap aset digital. Menurutnya, pelaku kini lebih sering memanfaatkan aspek psikologis pengguna untuk memperoleh akses terhadap data maupun aset kripto.
"Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem pada exchange. Padahal, dalam beberapa kasus, pelaku justru memperoleh akses karena korban secara tidak sadar memberikan informasi penting atau mengklik tautan berbahaya yang menyerupai layanan resmi," ujarnya dalam diskusi Beyond Code: The Human Side of Crypto Security, Rabu, 1 Juli 2026.
Ledy menjelaskan pelaku juga memanfaatkan iklan palsu di media sosial dan manipulasi hasil pencarian. Bahkan, pelaku bisa menyamar sebagai customer support melalui aplikasi pesan instan.
"Di Indodax sendiri kami tidak memiliki nomor WhatsApp Customer Support resmi. Seluruh layanan hanya dapat diakses melalui nomor telepon, email, maupun kanal resmi perusahaan. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri melakukan verifikasi bahkan riset mandiri (DYOR) dalam mencerna informasi sebelum mengambil keputusan," katanya.
Menurutnya, keamanan digital harus dibangun melalui kebiasaan memverifikasi informasi, menjaga kerahasiaan data pribadi, dan mengenali berbagai modus manipulasi yang terus berkembang. Langkah tersebut dinilai menjadi kunci untuk memperkuat perlindungan aset kripto di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber berbasis AI.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....