Marak Penipuan Digital, Bank Indonesia Jateng Minta Masyarakat Tak Asal Klik
- 26 Jun 2026 09:45 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Tengah mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap maraknya penipuan digital atau scam. Seiring meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital, masyarakat diminta tidak mudah percaya dan menghindari kebiasaan mengklik tautan atau pesan yang mencurigakan.
Kepala KPwBI Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, mengatakan pelaku penipuan digital kini menggunakan berbagai modus, mulai dari phishing, rekayasa sosial (social engineering), hingga penipuan berkedok transaksi belanja maupun investasi. Menurutnya, perkembangan teknologi turut membuat modus kejahatan siber semakin beragam dan sulit dikenali.
Noor Nugroho menegaskan, korban penipuan digital tidak hanya berasal dari masyarakat yang memiliki literasi digital rendah. Siapa pun berpotensi menjadi korban apabila lengah dan tidak berhati-hati saat menerima pesan atau tautan yang tidak jelas asal-usulnya.
“Yang lebih penting bukan hanya edukasi atau literasi, tetapi kewaspadaan. Begitu kita waspada, mudah-mudahan kita bisa terhindar dari penipuan. Kalau ragu, stop dulu, jangan main klik-klik saja, mesti hati-hati,” ujarnya saat Media Briefing di kantornya, Kamis, 25 Juni 2026.
Untuk memperkuat perlindungan konsumen, Bank Indonesia akan terus menggencarkan edukasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kepolisian, dan aparat penegak hukum lainnya. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai berbagai modus penipuan digital sekaligus cara menghindarinya.
Selain meningkatkan kewaspadaan, masyarakat yang menjadi korban scam digital juga diminta segera melaporkan kejadian tersebut kepada Indonesia Anti Scam Center (IASC). Pelaporan secara cepat dinilai penting agar rekening tujuan dapat segera diblokir sebelum dana hasil kejahatan dipindahkan ke rekening lain.
“Kalau terkena scam, yang paling efektif segera lapor ke IASC, semakin cepat melapor semakin baik, karena rekening tujuan bisa segera di-freeze. Kalau terlambat, dalam waktu sekitar 30 menit dana bisa berpindah ke beberapa lapisan rekening sehingga semakin sulit ditelusuri,” katanya.
Bank Indonesia berharap penguatan literasi keuangan digital yang diiringi dengan kewaspadaan masyarakat dapat menekan angka penipuan siber. Dengan begitu, masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara lebih aman, nyaman, dan terlindungi dari berbagai modus kejahatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....