Bitcoin Menguat, Momentum Positif di Tengah Dinamika Geopolitik.

  • 26 Apr 2026 03:00 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang : Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat mendekati level US$79.500 pada Jumat 24 April 2026, setelah sebelumnya sempat terkoreksi ke sekitar US$74.000 di awal pekan (20/4). Penguatan ini didorong oleh arus masuk dana institusional yang tetap solid, tercermin dari akumulasi dana pada produk spot Bitcoin ETF sekitar US$250,22 juta sepanjang pekan dengan total akumulasi sebesar US$57,95 miliar.

Tren ini mengindikasikan bahwa permintaan serta kepercayaan terhadap aset kripto masih terjaga di tengah dinamika pasar global. Menariknya, kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak melanjutkan negosiasi dengan AS, meskipun sebelumnya terdapat upaya perpanjangan gencatan senjata dari pihak AS.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen risiko global. Akan tetapi juga oleh kekuatan permintaan, khususnya dari investor institusional dalam jangka panjang.

Menanggapi kondisi tersebut, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai bahwa penguatan Bitcoin saat ini mencerminkan perubahan struktur pasar. Utamanya yang semakin didorong oleh partisipasi investor institusional.

“Pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek, tetapi juga oleh permintaan yang semakin konsisten dari investor institusional, yang terlihat dari arus masuk melalui produk spot ETF. Di tengah ketidakpastian global, kondisi ini justru dimanfaatkan oleh sebagian investor sebagai momentum akumulasi,” ujar Antony (25/4/2026).

Menurut dia, hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang harga, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi Selain faktor permintaan institusional, dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan pasar.

Ia mengatakan, penegasan independensi bank sentral mencerminkan komitmen The Fed dalam menjaga stabilitas ekonomi, namun di sisi lain, ketidakpastian arah suku bunga ditengah kondisi inflasi yang belum sepenuhnya stabil membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati terhadap aset berisiko, termasuk kripto, dalam jangka pendek.

Semakin terbukanya pandangan terhadap aset digital sebagai bagian dari sistem keuangan modern turut memberikan sentimen positif bagi prospek jangka panjang industri kripto. Selain itu, pergerakan harga juga dipengaruhi oleh aktivitas di pasar derivatif.

“Dalam beberapa waktu terakhir, banyak posisi jual (short) yang terpaksa ditutup ketika harga mulai naik, sehingga memicu terjadinya short squeeze. Hal ini meningkatkan permintaan dalam waktu singkat dan mempercepat penguatan harga dalam jangka pendek, “tuturnya.

Secara keseluruhan, kata dia, kombinasi antara dinamika geopolitik, faktor makroekonomi, partisipasi institusional, serta kondisi teknikal di pasar derivatif mengindikasikan bahwa struktur pasar kripto saat ini semakin kompleks. Namun demikian, volatilitas tetap menjadi karakter utama, sehingga investor perlu tetap mengedepankan manajemen risiko serta melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

“Bagi kami di INDODAX melihat kondisi ini sebagai bagian dari dinamika pasar yang perlu disikapi secara bijak. Sehingga, kami mengimbau agar setiap keputusan investasi tetap didasarkan pada pemahaman yang matang serta pengelolaan risiko yang terukur,” tandasnya. (Rel/Dars).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....