Di Tengah Tren Pinjol dan Paylater, Indodax Ajak Anak Muda Mulai Investasi Rutin

  • 21 Mei 2026 15:40 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Jakarta — Di tengah maraknya penggunaan pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now pay later (BNPL), Indodax mengajak generasi muda mulai membangun kebiasaan investasi rutin sebagai langkah menjaga kesehatan finansial jangka panjang. Ajakan tersebut muncul di tengah tingginya akses layanan keuangan digital yang dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang disiplin.

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian menilai tingginya penggunaan pinjol dan paylater di kalangan anak muda menunjukkan adanya ketimpangan antara pola konsumsi digital dengan kesiapan membangun kondisi finansial jangka panjang. Menurutnya, generasi muda saat ini sangat dekat dengan teknologi dan layanan keuangan digital, tetapi belum semuanya memiliki kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten.

“Generasi muda saat ini sangat dekat dengan teknologi dan layanan keuangan digital, namun di saat yang sama, banyak yang belum memiliki kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten. Padahal, membangun kondisi finansial yang sehat tidak selalu harus dimulai dari nominal besar,” tutur Aloysia Dian melalui siaran pers, Kamis, 21 Mei 2026.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 48,65 persen kredit macet pinjaman online per Maret 2026 berasal dari kelompok usia 19–34 tahun. Pada periode yang sama, outstanding pinjol nasional mencapai Rp101,03 triliun atau tumbuh 26,25 persen secara tahunan, sementara total utang BNPL menyentuh Rp28,3 triliun dari 30,81 juta pengguna.

Sebagai langkah membangun kebiasaan finansial sehat, Indodax mendorong generasi muda mengenal strategi investasi rutin seperti Dollar-Cost Averaging (DCA). Metode tersebut memungkinkan seseorang berinvestasi secara berkala dengan nominal tetap guna membangun aset jangka panjang secara lebih disiplin.

Aloysia menjelaskan, pinjaman online maupun layanan BNPL pada dasarnya merupakan instrumen keuangan yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Namun, di tengah kemudahan akses kredit digital dan gaya hidup serba instan, generasi muda dinilai semakin rentan terjebak dalam perilaku konsumtif yang dapat memengaruhi stabilitas finansial di masa depan.

Sementara itu, data OJK menunjukkan rasio kredit bermasalah pinjol (TWP90) per Maret 2026 mencapai 4,52 persen. Kondisi tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa pengelolaan keuangan dan penggunaan utang konsumtif masih menjadi tantangan di tengah meningkatnya akses layanan keuangan digital.

“Banyak generasi muda belum menyadari bahwa riwayat finansial hari ini dapat berdampak pada akses keuangan mereka di masa depan. Karena itu, penting untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat, tidak hanya dalam mengelola konsumsi, tetapi juga dalam berinvestasi dan membangun aset secara konsisten,” ucap Aloysia.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Indodax menyediakan fitur Investasi Rutin yang memungkinkan pengguna melakukan investasi otomatis secara terjadwal. Selain itu, edukasi bagi pengguna pemula juga terus diperkuat guna membantu masyarakat memahami risiko, prinsip dasar investasi, dan membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....