Ekspor Menurun Imbas Timur Tengah Memanas, Jateng Siapkan Perluasan Pasar

  • 07 Apr 2026 13:49 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ekspor Jawa Tengah sedikit mengalami penurunan imbas memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Tren ini tampak berdasarkan data penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) yang mengalami penurunan 7,23 persen pada Maret 2026.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia, menyebut penurunan tersebut setara dengan nilai sekitar 26,84 juta dolar AS atau sekitar Rp457 miliar. Namun, data ini diakuinya masih sementara karena harus menunggu rilis resmi Badan Pusat Statistik pada 1 Mei 2026.

"Tapi itu berdasarkan SKA. Kalau yang resmi dari BPS belum rilis, nanti tanggal 1 Mei 2026," tuturnya, Selasa 7 April 2026.

Kendati menurun, Emmy menyebut pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipatif untuk memperluas pasar ekspor terdampak tersebut. Salah satunya ke kawasan Eropa yang masih prospektif.

Agar tembus ke pasar Eropa, pihaknya mendorong pelaku industri, baik skala besar maupun Industri Kecil Menengah (IKM), mempercepat transformasi industri menuju konsep ramah lingkungan atau green industry. Langkah ini dinilai penting untuk memenuhi standar pasar global yang semakin ketat terhadap isu lingkungan.

“Beberapa negara di Uni Eropa dan Asia kini mewajibkan produk yang masuk memenuhi standar lingkungan,” ujarnya. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus membuka peluang ekspor baru.

Selain itu, Disperindag memberikan dukungan berupa pelatihan dan fasilitasi sertifikasi hijau secara gratis. Pembentukan forum industri hijau daerah juga dilakukan untuk memperkuat ekosistem industri berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi, membenarkan kondisi ekspor yang terganggu akibat situasi geopolitik. Ia menyebut tingginya risiko pengiriman membuat biaya logistik melonjak drastis.

“Biaya angkutan bisa naik hingga beberapa kali lipat karena risiko tinggi. Banyak pelaku usaha memilih menahan ekspor,” jelasnya.

Frans menambahkan, sektor yang paling terdampak antara lain garmen, alas kaki, serta makanan dan minuman. Produk busana muslim juga menjadi salah satu komoditas utama yang terdampak karena selama ini menyasar pasar Timur Tengah.

Ia menilai, meskipun pasar ekspor Indonesia tidak hanya bergantung pada Timur Tengah, gangguan di kawasan tersebut tetap memberi dampak signifikan. Hal ini dikarenakan biaya dan risiko distribusi ikut meningkat secara keseluruhan.

Pelaku usaha pun berharap adanya dukungan pemerintah berupa insentif jika kondisi terus memburuk. Bantuan tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan global.

"Tadi kan saya katakan kalau kita mulai kena dampak dan kita sudah kewalahan, kita mau lari ke mana lagi. Selain minta insentif dari pemerintah karena kita ini juga kerja bayar pajak pada pemerintah, ya," ujarnya.

Di sisi lain, Apindo mendorong pelaku usaha untuk tetap mencari alternatif pasar ekspor. Diversifikasi tujuan ekspor dinilai menjadi langkah strategis agar industri tetap bertahan di tengah ketidakpastian global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....