SD 1 Ngembal Kulon Kabupaten Kudus Edukasi Siswa Pilah Sampah

  • 21 Jun 2026 13:09 WIB
  •  Semarang

‎RRI.CO.ID, Kudus - SD 1 Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, menggelar edukasi pengelolaan sampah bagi puluhan siswa sebagai bagian dari upaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Kegiatan tersebut menghadirkan Komunitas Kresek Indonesia yang memberikan penyuluhan sekaligus praktik daur ulang sampah kepada para peserta.

‎‎Kepala SD 1 Ngembal Kulon, Dita Priska Pravita mengatakan, kegiatan tersebut sengaja digelar untuk memperkuat pemahaman siswa. Utamanya terkait pemilahan sampah organik, anorganik, serta pemanfaatan kembali limbah yang masih memiliki nilai guna.

‎‎Menurutnya, edukasi lingkungan menjadi penting karena sekolah saat ini sedang mempersiapkan diri menuju Sekolah Adiwiyata. Selain itu, persoalan sampah juga menjadi tantangan yang perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak usia dini.

‎‎"Kami ingin anak-anak memahami cara memilah sampah dengan benar, mengetahui cara mengurangi sampah. Selain itu mereka dapat memahami bahwa sampah tertentu masih bisa didaur ulang menjadi produk yang bermanfaat," ujarnya Sabtu, 20 Juni 2026.

‎‎Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 59 siswa kelas IV dan V mengikuti penyuluhan sekaligus praktik membuat bros dan gantungan kunci dari limbah plastik. Pemilihan peserta dari kelas atas dilakukan karena dinilai telah memiliki kemampuan memahami materi dan mengikuti proses pembuatan kerajinan secara mandiri.

‎‎Dita menjelaskan, sekolah sebenarnya telah menyediakan fasilitas pemilahan sampah. Namun dalam praktik sehari-hari masih ditemukan siswa yang belum disiplin membuang sampah sesuai jenisnya.

‎‎Karena itu, pihak sekolah berharap kegiatan edukasi semacam ini mampu memberikan dampak nyata terhadap perubahan perilaku siswa. ‎"Yang terpenting bukan hanya mengejar predikat Adiwiyata, tetapi bagaimana anak-anak memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dan memahami pengelolaan sampah dengan baik," katanya.

‎‎Pihak sekolah juga akan melakukan evaluasi terhadap perubahan perilaku siswa pada semester berikutnya. Penilaian tidak hanya dilakukan dari hasil praktik, tetapi juga dari kebiasaan siswa dalam memilah dan membuang sampah di lingkungan sekolah.

‎‎Ketua Komunitas Kresek Indonesia, Faesal Adam, menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya berisi sosialisasi, tetapi juga praktik langsung pengolahan sampah. Dengan harapan siswa dapat melihat manfaat nyata dari proses daur ulang.

‎‎"Kami ingin anak-anak memahami bahwa sampah tidak selalu menjadi masalah. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat diubah menjadi barang yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi," jelasnya. (Adm).‎

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....